Sabtu, 07 April 2012

Tips Belajar Dengan Baik

Saat ini kita akan mengetahui tips tentang bagaimana belajar, bagaimana membaca dengan baik, bagaimana menghasilkan karya yang baik, bagaimana mendidik memori dan bagaimana membuat ringkasan yang baik. Yang paling penting adalah bahwa Anda perlu untuk belajar setiap hari selain mengikuti saran ini,

Tidur minimal delapan jam setiap hari  dan menetapkan teknik konsentrasi untuk belajar adalah cara yang baik harus terus diperbarui dengan konten yang diajarkan di kelas.
Dan akhirnya, mempertahankan gaya hidup sehat sangat penting tidak hanya untuk mendapatkan pelajaran, tetapi juga memiliki kualitas hidup yang sangat baik. Latihan, bergaul dengan teman, pergi berlibur dan jauh dari semua hal-hal yang kurang baik - termasuk kopi - adalah cara yang baik untuk menjaga pikiran Anda siap untuk setiap "tantangan belajar" yang datang.



  •   Meningkatkan Memori
  •   Terus Belajar
  •   Membaca dengan Konsentrasi
  •    Buatlah Ringkasan
Tapi Yang paling Utama untuk belajar dengan baik adalah keinginan untuk mengetahui.. Ok "tetap Belajar"

Jumat, 06 April 2012

Gerakan Kaum Muda Melawan Kapitalisme Global

(Bahrul Amsal)
Hati nurani pasti terketuk
pada titik ketertindasan dari hak-hak yang ada
Maka Kaum muda adalah hati nurani
Yang selalu berteriak dengan semangat perlawanan terhadap
Penindasan apapun

Sistem ekonomi kapitalisme yang memiliki mekanisme kerja berdasarkan tiga komponen utama yakni kaum pemodal, tenaga kerja, dan pasar melalui corak hubungan produksi yang mengarahkan pada keuntungan terhadap salah satu komponen dalam hal ini adalah kaum pemodal telah melahirkan banyak implikasi terhadap kondisi masyarakat yang dijadikan sebagai lahan komoditinya. Mekanisme kerja seperti inilah yang kemudian mengarahkan kita pada arena pasar bebas dimana didalamnya terjadi pembantaian secara massal akan nasib berjuta-juta manusia.
Lahirnya kesenjangan kelas, bertambahnya masyarakat yang hidup dibawah garis kemiskinan, banyaknya anak-anak didik yang putus sekolah, berdiri dan bertambahnya gedung-gedung pencakar langit hingga sampai melahirkan kondisi masyarakat yang berwatak konsumerisme adalah beberapa fenomena yang lahir akibat permainan apik dari sistem kapitalisme itu sendiri. Kapitalisme yang menjadi seperangkat bentuk yang menghegemoni lewat jalur-jalur penghisapan dan penindasan telah melahirkan penjajahan bergaya baru dengan cara konsep depedensinya sehingga memiliki dampak yang cukup luar biasa terhadap segala sendi kehidupan umat manusia. Hadirnya negara-negara kapitalis pasca perang dunia kedua pada sepanjang abad ke-20 telah menggerakkan modalnya berupa uang, aset, dan sumber-sumber dayanya dari lingkup negaranya untuk ditanamkan terhadap lokasi yang memiliki potensi besar untuk menanamkan investasinya. Dengan cara itu mereka mendapatkan laba yang besar dari berkurangnya biaya-biaya produksi dengan adanya pengangkutan barang-barang melalui udara, berkembangya infrastruktur komunikasi dan teknologi informasi untuk melakukan kontrak-kontrak produksi sampai kebelahan dunia manapun. Corak baru hubungan produksi seperti demikianlah yang kemudian melahirkan sistem kapitalisme global sistem yang pada akhirnya berujung pada imperialisme pasar. Sistem kapitalisme global yang telah melahirkan penghapusan-penghapusan akan batas-batas lokal sebuah kawasan yang nantinya akan membuka peluang bagi pihak-pihak pemodal untuk membentuk perusahaan yang berskala transnasional agar bersatu dalam satu korporasi internasional untuk menguasai pasar sehingga pada nantinya koorporasi-koorporasi inilah yang akan memainkan arah pasar, tarif harga yang dipakai sampai bentuk dan corak dari suatu barang yang diperdagangkan. Berbicara mengenai “pasar” yang merupakan tempat perdagangan bebas bagi pihak kapitalisme adalah bagaimana agar mereka dapat mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya dengan cara apapun nampaknya sesuai dengan logika mereka yaitu logika akumulasi modal. Untuk memenangkan kompetisisi di pasar maka biaya produksi harus lebih kecil daripada saingannya atau memperkecil jumlah pesaing dengan cara peleburan. Dengan cara ini maka akan melahirkan beberapa pelaku pasar akan berkurang sehingga pada prosesnya akan berdampak pada pembentukan sistem monopoli pasar yang dikemudikan oleh segelintir perusahaan.
Sekarang apabila kita sangkutkan dengan lahirnya konsep neoliberalisme yang merupakan turunan dari peralihan kapitalisme global yang mengusung gagasan yang dikenal dengan konsep liberalisasi, privatisasi dan swastanisasi dan dengan dukungan lembaga-lembaga yang dibentuk oleh negara-negara adikuasa berupa IMF, Bank Dunia serta lembaga-lembaga keuangan lainnya yang bertujuan untuk melanggengkan perdagangan internasional dari ketidakstabilan ekonomi maka secara ekonomi dan politik negara-negara yang telah membangun hubungan dengan lembaga-lembaga tersebut akan terkena efek dari ketergantungan mereka apabila telah terjadi guncangan ekonomi internasional.
Perlu kita ingat kembali bahwa ciri dan watak kerja pengembangan kapitalisme itu sendiri selain lahirnya hak-hak istemewa juga untuk mendapatkan laba sebanyak-banyaknya dengan menggunakan asumsi berupa menciptakan kondisi ketergantungan terhadap mereka dari negara-negara yang telah dikontrol sepenuhnya. Mengusung hingga tercapainya konsolidasi korporasi dan tak kalah pentingnya mereka sampai melebarkan sayapnya kepada mempengaruhi perangkat hukum dan politik dari sebuah kawasan yang talah mereka kuasai. Dalam artian melewati ciri kerja seperti ini maka dibuatkanlah regulasi-regulasi ( Indonesia memiliki UU Migas No.22 tahun 2001 dan UU No.25 tentang penanaman modal asing ) yang dapat memuluskan jalan kapitalisme untuk masuk mengembangkan modalnya dalam satu daerah yang menjadi targetannya.
Indonesia yang merupakan salah satu negara yang memiliki ketergantungan yang cukup tinggi terhadap lembaga-lembaga internasional tersebut turut terkena implikasi akibat hubungan yang telah terbangun cukup lama dengan mereka . Kenapa sehingga sampai hari ini banyak terjadi penindasan dan penghisapan terhadap negara kita? itu semua akibat kontrak yang telah terbangun sebelumnya sehingga berakibat pada kondisi ekonomi nasional yang tak pernah stabil dan ujung-ujungnya adalah kesengsaraan rakyat. Apabila kita menyinggung peran negara dalam membangun ekonomi yang berkeadilan terhadap masyarakat hari ini nampaknya belum secara nyata akan terlihat hasilnya. Ini semua tidak terlepas dari liberalisasi yang merupakan konsekuensi logis dari ajaran neoliberalisme yang dilakukan dari negara-negara imperialisme untuk melepaskan peran dan tanggung jawab negara terhadap aset-asetnya. Apabila kita melihat dari segala sektor riil yang dimiliki negara kita hari ini maka hampir seluruhnya dikuasai oleh pihak asing sehingga negara hanyalah memiliki posisi sebagai penonton untuk menyaksikan pihak asing memainkan “adegannya di atas panggung sendiri”. Apabila peran negara tak lagi mampu mengontrol segala komoditi yang sebenarnya apabila mampu dikontrol dan diarahkan kepada kepentingan rakyat maka kondisi masyarakat kita tak akan nampak seperti kondisi seperti sekarang ini. Akibat dari dikuasainya negara kita hari ini oleh pihak asing maka kepentingan negara bukan lagi memiliki tujuan untuk memberikan kesejahteraan terhadap rakyatnya. Hal ini dikarenakan telah terjadi kondisi yang dimana negara kita telah menjadi budak belian dari kapitalisme global yang sejatinya lahir bentuk-bentuk fundamentalisme pasar ( baca; penghambaan ) negara kita terhadap mereka sehingga alur kesejahteraan bukan lagi berada pada rakyat kita melainkan telah berbelok untuk mensejahterakan pihak yang memiliki modal besar.
Pengkhianatan negara kita pada ujungnya menciptakan kompeksitas permasalahan dalam negeri yang tak pernah terselesaikan. Singkat kata tidak ada bentuk perhatian oleh negara kita kepada rakyat yang hari ini terjepit diantara kemiskinan yang berkepanjangan akibat pemiskinan struktural yang terjadi secara berlahan-lahan dari dulu hingga sekarang. Makanya jangan heran apabila kita melihat semakin banyaknya masyarakat kita yang berteriak akibat himpitan kehidupan yang semakin menyesakkan dada.
Melihat kondisi realitas sekarang akibat betapa kejinya permainan kapitalisme global yang menjadi maenstream dunia hingga detik ini bahkan sampai mempengaruhi kapan seseorang akan mati akibat nasibnya dikontrol penuh oleh mereka, maka perlu adanya upaya perlawanan dari pihak anti kapitalisme untuk melakukan perubahan secara mendasar agar negara kita terlepas dari kungkungan kapitalisme global.
Sejarah Indonesia adalah sejarah angkatan Muda
( Pramoedya Ananta Toer )
Sedikit banyak penulis telah mengungkapkan bagaimana kapitalisme itu memainkan perannya di dunia ini sehingga pada dasarnya dengan mengikuti tema sentral diatas yaitu gerakan kaum muda menetang kapitalisme global maka perlu bagi penulis untuk sedikit berbicara mengenai gerakan kaum muda dalam membangun gerakan untuk menentang kapitalisme secara nyata.
Sejarah kita membuktikan bahwa spirit resistensi kaum muda yang dibawa dalam menentang segala bentuk penjajahan dan penindasan dari sebuah tirani telah memberikan kita berbagai pelajaran dalam mengkonsepsikan seperti apa bentuk gaya perlawanan kita terhadap penjajahan yang terjadi dalam kondisi disaman sekarang ini. Kapitalisme global yang merupakan common enemi kita sekarang memiliki bentuk penjajahan bergaya baru yang tanpa kita sadari telah merongrong nasib kita kedepannya. Kapitalime yang memiliki keunggulan dalam bermethamorposis seharusnya mampu diimbangi dengan gerakan kaum muda sekarang sehingga kita tidakl lagi latah menyikapi bentukan baru dari perkembangan dialektika kapitalisme itu sendiri.
Perlu dipahami bahwa kapitalisme bukan saja berupa gerakan yang lahir dari sebuah sistem ekonomi yang melahirkan penjajahan dan penghisapan melalui pasar globalnya. melainkan adalah seperangkat ide atau sebuah gagasan yang memiliki bangunan teoritis tersendiri sehingga ia mampu eksis dan bermethamorposis sampai sekarang. Kapitalisme memiliki landasan epistemik yang melahirkan pandangan dunia sampai kapitalisme itu sendiri menjadi seperangkat nilai yang dijalankan oleh hamba-hambanya sebagai protokol dalam setiap perencanaan programatiknya. Tak heran apabila kapitalisme begitu kokoh untuk dapat diruntuhkan bahkan sampai menciptakan proses dehumanisasi serta alienasi masyarakat dari ruang lingkup sosialnya.
Dari sini dapat kita petakan bahwa kapitalisme memiliki dua bentuk penjajahan yang dilakukan secara sistemik. Peluncuran produk yang pada perkembangan didalamnya terjadi pertarungan merek dari barang-barang yang diperdagangkan adalah salah satu bentuk penjajahan untuk menguasai pasar. Bentuk penjajahan lainnya dari kapitalisme adalah meminjam istilah apa yang disebut oleh Antonio Gramsci dengan hegemoni ide atau gagasan. Dua bentuk cara penjajahan inilah kemudian yang saling berdampingan yang akhirnya menuntut kaum muda untuk terus menghabiskan energinya dalam membangun gerakkan kolektiv demi terlepas dari pengaruh momok kapitalisme.
Menurut penulis dalam membangun sebuah gerakan untuk menentang arus perkembangan kapitalisme dimulai dari pembacaan realitas yang hadir dari akibat-akibat yang ditimbulkan oleh hegemoni kapitalisme itu sendiri. Realitas sekarang seharusnya mampu dibaca oleh kaum muda sehagai bahan reflektif dan kontruktif sebagai langkah awal untuk membangun sebuah gerakan demi penentangan terhadap apa yang sekarang menjadi background dari penjajahan sekarang. Dengan seperti ini akan melahirkan kesadaran kritis dari penyebab realitas yang terjadi dewasa ini. Pembacaan realitas ini haruslah dibarengi dengan upaya melawan secara sistemik dari upaya-upaya kapitalisme yang membuat masyarakat kita menjadi komunitas kolektif yang tercerabut dari hakikatnya sebagai manusia akibat terperdaya bahkan sampai terlena dari bujuk rayuan produk-produk yang ditawarkan oleh kaum-kaum pemodal yang bersujud dibawah kaki-kaki kapitalisme. Singkat kata kapitalisme hari ini bukan lagi memperdaganggkan sesuatu atas produknya melainkan citra yang terbangun lewat hegemoni mereka. Bila seperti ini maka efek yang hadir secara berlahan-lahan di tengah msyarakat kita adalah budaya konsumerisme. Makanya apabila gerak perlawanan kita selama ini terhadap kapitalisme adalah bentuk materialnya maka akan sangat sulit bagi kita membendungnya. Yang menjadi pertarungan kita hari ini adalah pertarungan akan makna ataukah pertarungan akan produk dari kapialisme itu sendiri?
Perlu juga adanya upaya perlawanan lewat hegemoni ide atau gagasan yang kemudian memberikan pemaknaan terhadap bentukan-bentukan baru terhadap kapitalisme agar apa yang terjadi nantinya bukan lagi budaya yang sifatnya konsmerisme melainkan sebuah gerakan yang bersifat sistematis dan terarah.
Tapi terlepas dari itu perlu adanya upaya perubahan paradigmatik secara meluas terhadap masyarakat kita untuk memberikan asumsi dasar bahwa kerangka bangunan ekonomi dari sistem kapitalisme hanya menimbulkan berbagai kompeksitas masalah terhadap nasib orang banyak
Kaum muda harusnya bersatu dalam membangun gerakan kedepan. Jangan lagi ada dikotomi gerakan dalam menyusun agenda-agenda untuk melawan kapitalisme global. Sebab dengan begitu maka keuatan yang hadir pun dapat lebih massif dari kekuatan-kekuatan sebelumnya
Kaum muda adalah spirit baru bangsa yang mampu menghadirkan perubahan yang siknifikan dalam kerangka kebangsaan yang kian hari terpuruk dalam tatanan Geopol dunia. Kaum dengan harapan berangkat dari pembacaan akan realitas yang tuntas akan mampu berpikir solutif akan keterjajahan bangsa ini dengan harapan tidak ada deviasi paradigma yang terjadi dari kaum mudah yang perlu disadari terkadang terjebak didalamnya.
Keteguhan mempertahankan prinsip adalah salah satu pondasi yang kokoh untuk sebuah gerakan muda melawan kapitalisme global. Idealisme akan perubahan mesti menjadi roh dalam diri kaum muda. Keyakinan yang mesti hadir dalam diri kaum muda bahwa sesuatu yang berlawanan dengan nilai-nilai kemanusiaan pasti akan tumbang.

Teori Belajar

a) Teori Operant Conditioning
Teori operant conditioning dimulai pada tahun 1930-an. Burhus Fredik Skinner selama periode teori stimulus (S)- Respons ( R) untuk menyempurnakan teorinya Ivan Pavlo yang disebut “Classical Conditioning”. Skinner setuju dengan konsepnya John Watson bahwa psikologi akan diterima sebagai sain (science) bila studi tingkah laku (behavior) tersebut dapat diukur, seperti ilmu fisika, teknik, dan sebagainya.
Menurut Skinner , belajar adalah proses perubahan tingkah laku yang harus dapat diukur. Bila pembelajar (peserta didik) berhasil belajar, maka respon bertambah, tetapi bila tidak belajar banyaknya respon berkurang, sehingga secara formal hasil belajar harus bisa diamati dan diukur.
Hasil temuan skinner terdapat tiga komponen dalam belajar yaitu :
Discriminative stimulus (SD)
Response
Reinforcement (penguatan)
- penguatan positif
- penguatan negative
b) Teori Conditioning Of Learning, Robert M. Gagne
Teori ini ditemukan oleh Gagne yang didasarkan atas hasil riset tentang faktor-faktor yang kompleks pada proses belajar manusia. Penelitiannya diamksudkan untuk menemukan teori pembelajaran yang efektif. Analisanya dimulai dari identifikasi konsep hirarki belajar, yaitu urut-urutan kemampuan yang harus dikuasai oleh pembelajar (peserta didik) agar dapat mempelajari hal-hal yang lebih sulit atau lebih kompleks.
Menurut Gagne belajar memberi kontribusi terhadap adaptasi yang diperlukan untuk mengembangkan proses yang logis, sehingga perkembangan tingkah laku (behavior) adalah hasil dari efek belajar yang komulatif (gagne, 1968). Lebih lanjut ia menjelaskan bahwa belajar itu bukan proses tunggal. Belajar menurut Gagne tidak dapat didefinisikan dengan mudah, karena belajar bersifat kompleks.
Gagne (1972) mendefinisikan belajar adalah : mekanisme dimana seseorang menjadi anggota masyarakat yang berfungsi secara kompleks. Kompetensi itu meliputi, skill, pengetahuan, attitude (perilaku), dan nilai-nilai yang diperlukan oleh manusia, sehingga belajar adalah hasil dalam berbagai macam tingkah laku yang selanjutnya disebut kapasitas atau outcome. Kemampuan-kemampuan tersebut diperoleh pembelajar (peserta didik) dari :
1. Stimulus dan lingkungan
2. proses kognitif
Menurut Gagne belajar dapat dikategorikan sebagai berikut :
1) Verbal information (informasi verbal)
2) Intellectual Skill (skil Intelektual)
3) Attitude (perilaku)
4) Cognitive strategi (strategi kognitif)
Belajar informasi verbal merupakan kemampuan yang dinyatakan , seperti membuat label, menyusun fakta-fakta, dan menjelaskan. Kemampuan / unjuk kerja dari hasil belajar, seperti membuat pernyataan, penyusunan frase, atau melaporkan informasi.
Kemampuan skil intelektual adalah kemampuan pembelajar yang dapat menunjukkan kompetensinya sebagai anggota masyarakat seperti; menganalisa berita-berita. Membuat keseimbangan keuangan, menggunakan bahasa untuk mengungkapkan konsep, menggunakan rumus-rumus matematika. Dengan kata lain ia tahu “ Knowing how”
Attitude (perilaku) merupakan kemampuan yang mempengaruhi pilihan pembelajar (peserta didik) untuk melakukan suatu tindakan. Belajar mealui model ini diperoleh melalui pemodelan atau orang yang ditokohkan, atau orang yang diidolakan.
Strategi kognitif adalah kemampuan yang mengontrol manajemen belajar si pembelajar mengingat dan berpikir. Cara yang terbaik untuk mengembangkan kemampuan tersebut adalah dengan melatih pembelajar memecahkan masalah, penelitian dan menerapkan teori-teori untuk memecahkan masalah ril dilapangan. Melalui pendidikan formal diharapkan pembelajar menjadi “self learner” dan “independent tinker”.
c) Teori Perkembangan Kognitif Jean Piaget (Cognitive Development Theory)
Menurut Piaget pengetahuan (knowledge) adalah interksi yangterus menerus antara individu dengan lingkungan.
Fokus perkembangan kognitif Piaget adalah perkembangan secara alami fikiran pembelajar mulai anak-anak sampai dewasa. Konsepsi perkembangan kognitif Piaget, duturunkan dari analisa perkembangan biologi organisme tertentu. Menurut Piaget, intelegen (IQ=kecerdasan) adalah seperti system kehidupan lainnya, yaitu proses adaptasi.
Menurut Piaget ada tiga perbedaan cara berfikir yang merupakan prasyarat perkekmbangan operasi formal, yaitu; gerakan bayi, semilogika, praoprasional pikiran anak-anak, dan operasi nyata anak-anak dewas.
Ada empat faktor yang mempengaruhi perkembangan kognitif yaitu :
1) lingkungan fisik
2) kematangan
3) pengaruh sosial
4) proses pengendalian diri (equilibration)
(Piaget, 1977)
Tahap perkembangan kognitif :
1) Periode Sensori motor (sejak lahir – 1,5 – 2 tahun)
2) Periode Pra Operasional (2-3 tahun sampai 7-8 tahun)
3) Periode operasi yang nyata (7-8 tahun sampai 12-14 tahun)
4) Periode operasi formal
Kunci dari keberhasilan pembelajaran adalah instruktur/guru/dosen/guru harus memfasilitasi agar pembelajar dapat mengembangkan berpikir logis.
d) Teori Berpikir Sosial (social Learning Theory)
Teori ini dikembangkan oleh Albert Bandura seorang psikolog pendidikan dari Stanford University, USA. Teori belajar ini dikembangkan untuk menjelaskan bagaimana orang belajar dalam seting yang alami/lingkungan sebenarnya.
Bandura (1977) menghipotesiskan bahwa baik tingkah laku (B), lingkungan (E) dan kejadian-kejadian internal pada pembelajar yang mempengaruhi persepsi dan aksi (P) adalah merupakan hubungan yang saling berpengaruh (interlocking),
Harapan dan nilai mempengaruhi tingkah laku
Tingkah laku sering dievaluasi, bebas dari umpan balik lingkungan sehingga mengubah kesan-kesan personal
Tingkah laku mengaktifkan kontingensi lingkungan
Karakteristik fisik seperti ukuran, ukuran jenis kelamin dan atribut sosial menumbuhkan reaksi lingkungan yang berbeda.
Pengakuan sosial yang berbeda mempengaruhi konsepsi diri individu.
Kontingensi yang aktif dapat merubah intensitas atau arah aktivitas.
P
B
E
Tingkah laku dihadirkan oleh model
Model diperhatikan oleh pelajar (ada penguatan oleh model)
Tingkah laku (kemampuan dikode dan disimpan oleh pembelajar)
Pemrosesan kode-kode simbolik
Skema hubungan segitiga antara lingkungan, faktor-faktor personal dan tingkah laku, (Bandura, 1976).
Skema
Proses Kognitif Pembelajar
Pembelajar mampu menunjukkan kompetensi/tingkah laku
Performance/unjuk kerja
Motivasi pembelajar mengolah tingkah laku
Proses perhatian sangat penting dalam pembelajaran karena tingkah laku yang baru (kompetensi) tidak akan diperoleh tanpa adanya perhatian pembelajar. Proses retensi sangat penting agar pengkodean simbolik tingkah laku ke dalam visual atau kode verbal dan penyimpanan dalam memori dapat berjalan dengan baik. Dalam hal ini rehearsal (ulangan ) memegang peranan penting.
Proses motivasi yang penting adalah penguatan dari luar, penguatan dari dirinya sendiri dan Vicarius Reinforcement (penguatan karena imajinasi).
Lebih lanjut menurut Bandura (1982) penguasaan skill dan pengetahuan yang kompleks tidak hanya bergantung pada proses perhatian, retensi, motor reproduksi dan motivasi, tetapi juga sangat dipengaruhi oleh unsur-unsur yang berasal dari diri pembelajar sendiri yakni “sense of self Efficacy” dan “self – regulatory system”. Sense of self efficacy adalah keyakinan pembelajar bahwa ia dapat menguasai pengetahuan dan keterampilan sesuai standar yang berlaku.
Self regulatory adalah menunjuk kepada 1) struktur kognitif yang memberi referensi tingkah laku dan hasil belajar, 2) sub proses kognitif yang merasakan, mengevaluasi, dan pengatur tingkah laku kita (Bandura, 1978). Dalam pembelajaran sel-regulatory akan menentukan “goal setting” dan “self evaluation” pembelajar dan merupakan dorongan untuk meraih prestasi belajar yang tinggi dan sebaliknya.
Menurut Bandura agar pembelajar sukses instruktur/guru/dosen/guru harus dapat menghadirkan model yang mempunyai pengaruh yang kuat terhadap pembelajar, mengembangkan “self of mastery”, self efficacy, dan reinforcement bagi pembelajar.
Berikut Bandura mengajukan usulan untuk mengembangkan strategi proses pembelajaran yaitu sebagi berikut :
No
Strategi Proses
1
Analisis tingkah laku yang akan dijadikan model yang terdiri :
a. Apakah karekter dari tingkah laku yang akan dijadikan model itu berupa konsep, motor skil atau efektif?
b. Bagaimanakah urutan atau sekuen dari tingkah laku tersebut?
c. Dimanakah letak hal-hal yang penting (key point) dalam sekuen tersebut?
2
Tetapkan fungsi nilai dari tingkah laku dan pilihlah tingkah laku tersebut sebagai model.
a. Apakah tingkah laku (kemampuan yang dipelajari) merupakan hal yang penting dalam kehidupan dimasa datang? (success prediction)
b. Bila tingkah laku yang dipelajari kurang memberi manfaat (tidk begitu penting) model manakah yang lebih penting?
c. Apakah model harus hidup atau simbol?
Pertimbangan soal biaya, pengulangan demonstrasi dan kesempatan untuk menunjukkan fungsi nilai dan tingkah laku.
d. Apakah reinforcement yang akan didapat melalui model yang dipilih?
3
Pengembangan sekuen instruksional
a. Untuk mengajar motor skill, bagaimana caramengerjakan pekerjaan/kemampuan yang dipelajari :how to do this” dan bukannya “not this”.
Langkah-langkah manakah menurut sekuen yang harus dipresentasikan secara perlahan-lahan
4
Implementasi pengajaran untuk menunut proses kognitif dan motor reproduksi.
a. motor skill
1) hadirkan model
2) beri kesempatan kepada tiap-tiap pembelajar untuk latihan secarasimbolik
3) beri kesempatan kepada pembelajar untuk latihan dengan umpan balik visual
b. proses kognitif
1) Tampilkan model, baik yang didukung oleh kode-kode verbal atau petunjuk untuk mencari konsistensi pada berbagai contoh
2) Beri kesempatan kepada pembelajar untuk membuat ihtisar atau summary
3) Jika yang dipelajari adalah pemecahan masalah atau strategi penerapan beri kesempatan pembelajar untuk berpartisipasi secaraaktif
4) Beri kesempatan pembelajar untuk membuat generalisasi ke berbagai siatuasi.
Dari uraian tentang teori belajar sosial, dapat disimpulkan sebagai berikut :
1. Belajar merupakan interaksi segitiga yang saling berpengaruh dan mengikat antara lingkungan, faktor-faktor personal dan tingkah laku yang meliputi proses-proses kognitif belajar.
2. komponen-komponen belajar terdiri dari tingkah laku, konsekuensi-konsekuensi terhadap model dan proses-proses kognitif pembelajar.
3. hasil belajar berupa kode-kode visual dan verbal yang mungkin dapat dimunculkan kembali atau tidak (retrievel).
4. dalam perencanaan pembelajaran skill yang kompleks, disamping pembelajaran-pembelajaran komponen-komponen skill itu sendiri, perlu ditumbuhkan “sense of efficacy” dan self regulatory” pembelajar.
5. dalam proses pembelajaran, pembelajar sebaiknya diberi kesempatan yang cukup untuk latihan secara mental sebelum latihan fisik, dan “reinforcement” dan hindari punishment yang tidak perlu.
Ahli lain yaitu Bloom dkk, menjelaskan domain tujuan pendidikan ada tiga ranah yaitu : 1) kognitif, yang berhubungan dengan ingatan, pengetahuan, dan perkembangan kemampuan dan skill intelektual, 2) afektif yang menjelaskan tentang perubahan dalam minat, perilaku (attitudes), nilai-nilai dan perkembangan dalam apresiasi dan penyesuaian , dan 3) psikomotor.
2. Teori Belajar Orang dewasa
Gagne membagi teori belajar dalam 3 famili :
a. conditioning
b. modelling
c. kognitif
Kingsley dan Garry membagi teori belajar dalam 2 bagian yaitu ;
a. teori stimulus-respon
b. teori medan
Taba membagi teori belajar menjadi 2 famili :
a. teori asosiasi atau behaviorisme
b. teori organismik, gestalt dan teori medan
Di dalam pembahasan akan difokuskan pada teori belajar orang dewasa. Ada aliran inkuiri yang merupakan landasan teori belajar dan mengajar orang dewasa yaitu : “scientific stream” dan “artistic atau intuitive/reflective stream”. Aliran “scientific stream” adalah menggali atau menemukan teori baru tentang belajar orang dewasa melalui penelitian dan eksperimen . Teori ini diperkenalkan oleh Edward L. Thorndike dengan pubilkasinya “ Adult Learning”, pada tahun 1928.
Pada aliran artistic, teori baru ditemukan melalui instuisi dan analisis pengalaman yang memberikan perhatian tentang bagaimana orang dewasa belajar. Aliran ini diperkenalkan oleh Edward C. Lindeman dalam penerbitannya “ The Meaning of Adult Education” pada tahun 1926 yang sangat dipengaruhi oleh filsafat pendidikan John Dewey.
Menurutnya sumber yang paling berguna dalam pendidikan orang dewasa adalah pengalaman peserta didik. Dari hasil penelitian, Linderman mengidentifikasi beberapa asumsi tentang pembelajar orang dewasa yang dijadikan fondasi teori belajar orang dewasa yaitu sebagai berikut :
1) pembelajar orang dewasa akan termotivasi untuk belajar karena kebutuhan dan minat dimana belajar akan memberikan kepuasan
2) orientasi pembelajar orang dewasa adalah berpusat pada kehidupan, sehingga unit-unit pembelajar sebaiknya adalah kehidupan nyata (penerapan) bukan subject matter.
3) Pengalaman adalah sumber terkaya bagi pembelajar orang dewasa, sehingga metode pembelajaran adalah analisa pengalaman (experiential learning).
4) Pembelajaran orang dewasa mempunyai kebutuhan yang mendalam untuk mengarahkan diri sendiri (self directed learning), sehingga peran guru sebagai instruktur.
5) Perbedaan diantara pembelajar orang dewasa semakin meningkat dengan bertambahnya usia, oleh karena itu pendidikan orang dewasa harus memberi pilihan dalam hal perbedaan gaya belajar, waktu, tempat dan kecepatan belajar.
Carl R Rogers (1951) mengajukan konsep pembelajaran yaitu “ Student-Centered Learning” yang intinya yaitu :
1) kita tidak bisa mengajar orang lain tetapi kita hanya bisa menfasilitasi belajarnya.
2) Seseorang akan belajar secarasignifikan hanya pada hal-hal yang dapat memperkuat/menumbuhkan “self”nya
3) Manusia tidak bisa belajar kalau berada dibawah tekanan
4) Pendidikan akan membelajarkan peserta didik secara signifkan bila tidak ada tekanan terhadap peserta didik, dan adanya perbedaan persepsi/pendapat difasilitasi/diakomodir
Peserta didik orang dewasa menurut konsep pendidikan adalah :
1) meraka yang berperilaku sebagai orang dewasa, yaitu orang yang melaksanakan peran sebagai orang dewasa
2) meraka yang mempunyai konsep diri sebagai orang dewasa
Andragogi mulai digunakan di Netherlands oleh professor T.T Ten have pada tahun 1954 dan pada tahun 1959 ia menerbitkan garis-garis besar “Science of Andragogy”
Model andragogi mempunyai konsep bahwa : kebutuhan untuk tahu (The need to know), konsep diri pembelajar ( the learner’s concept),peran pengalaman pembelajar (the role of the leaner’s experience), kesiapan belajar ( readiness to learn), orientasi belajar (orientation of learning) dan motivasi lebih banyak ditentukan dari dalam diri si pembelajar itu sendiri.
Didalam pembelajaran orang dewasa tidak sepenuhnya harus menggunakan model andragogi, tetapi bisa digabung model pedagogi. Jika pembelajarnya belum mengetahui atau sangat asing dengan materi yang disampaikan tentunya kita bisa menggunakan model pedagogi pada awal-awal pertemuan untuk mengkonstruksi pengalaman dengan pengetahuan yang baru didapatkan, selanjutnya bisa digunakan model andragogi sebagai penguatan dan pengembangan.

Funsionalisme

Fungsionalisme (berhubungan dengan model-model pembangunan Linear perubahan sosial)
Teori keteraturan dan stabilitas atau teori Equilibrium: konsep stabilitas merupakan karakteristik mendefinisikan struktur, mendefinisikan kegiatan yang diperlukan untuk kelangsungan hidup dari sistem, yaitu masyarakat memiliki syarat fungsional atau keharusan mana syarat fungsional yang berbeda menghasilkan struktur berbeda yang mengkhususkan diri dalam menjalani syarat.
Pendekatan  Teori Evolusi – jenis perubahan:
-Sistem pemeliharaan – yang paling umum: mengembalikan keseimbangan pola sebelumnya
-Diferensiasi struktural-sangat umum: meningkatnya diferensiasi subsistem unit ke pola spesialisasi fungsional dan saling   ketergantungan
-Adaptave upgrade: mekanisme baru integrasi, koordinasi dan kontrol yang dikembangkan untuk menggabungkan masalah integratif dengan yang memiliki diferensiasi struktural
-Perubahan Struktural – paling umum perubahan: ketika fitur kunci dari sistem, misalnya nilai-nilai budaya dasar, tujuan, distribusi
Kunci evolusi universal yang jelas dalam transisi dari pra-modern untuk masyarakat modern (menggambarkan modernisme tetapi tidak menjelaskannya):
-stratifikasi sosial
-birokrasi organisasi
-budaya legitimasi dari susunan struktur yang ada
-ekonomi dan pasar uang
-bersifat umum atau norma-norma sosial universal
-demokratis asosiasi
Neo-fungsionalisme
Ketegangan-sistem manajemen (masyarakat bukan merupakan sistem kesetimbangan): jika ada strain atau ketegangan, organisasi akan melakukan kompensasi, adjustive atau penyeimbang tindakan untuk mengubah gangguan counter akan terbatas pada fitur internal, jika strain ini sangat parah atau berkepanjangan yang seperti tindakan tidak dapat mengkompensasi, fitur organisasi akan berubah atau hancur dan perubahan seluruh organisasi
Kritik
-terutama berkaitan dengan perubahan evolusioner bertahap, kurang mampu menangani revolusioner, mendasar, transformasi cepat, atau munculnya nilai-nilai baru
-sumber strain ambigu kecuali eksogen dalam asal
-melihat perubahan sebagai baik – modernisme dilihat sebagai kecenderungan kebajikan. Pertumbuhan masyarakat menghasilkan diferensiasi, dan masalah dengan meningkatnya kompleksitas mendorong perubahan adaptif dengan koordinasi baru dan mekanisme kontrol. Peningkatan spesialisasi birokrasi dan pembagian kerja kompleks dalam masyarakat massa memberikan rasionalitas, efisiensi, tinggi tingkat konsumsi massa, penurunan parokialisme budaya dan bentuk-bentuk intoleransi dan takhayul
Teori masyarakat massa – kritik modernitas fungsionalis
-bersama dengan modernitas telah mengikis kehidupan dan budaya tradisional
-penggantian masyarakat lokal dengan depersonalization birokrasi dan anonimitas
-lemah dan impersonal ikatan saling ketergantungan fungsional
-berpendapat bahwa masyarakat dikembangkan massa dalam proses demassification

Sedikit Tentang Teori Konflik

Berasal dari Weber yang fokus tidak hanya pada perilaku terang-terangan dan acara tetapi juga pada bagaimana ditafsirkan, didefinisikan dan dibentuk oleh makna budaya bahwa orang memberi kepada mereka, pemahaman interpretatif yaitu aksi sosial – verstehen. Semua jenis teori interpretatif fokus pada aktor cara mendefinisikan situasi sosial dan dampak dari definisi pada aksi dan interaksi berikutnya; masyarakat manusia adalah proses yang berkelanjutan daripada badan atau struktur, sebagai manusia berinteraksi agar mereka melakukan negosiasi, struktur dan makna budaya. Realitas adalah suatu konstruksi sosial yang berkelanjutan simbolis disusun oleh interaksi manusia. Untuk fungsionalis dan ahli teori Konflik, titik awal analisis sosiologis perubahan adalah struktur. namun untuk Interpretiv, perubahan itu sendiri (interaksi, proses, negosiasi) adalah titik awal, dan struktur merupakan produk-oleh dan sementara. Perubahan sosial adalah penciptaan konstan, negosiasi dan menciptakan kembali tatanan sosial. Perubahan sosial dapat dipahami dengan melihat perubahan makna dan definisi. Kelompok, masyarakat, organisasi menjadi nyata hanya sejauh bahwa aktor percaya bahwa mereka harus nyata, sehingga kesepakatan negosiasi tentang apa yang nyata muncul; masyarakat yaitu benar-benar merupakan konstruksi sosial, hasil dari proses sejarah interaksi simbolis dan negosiasi. Dalam masyarakat yang kompleks, hanya ada konsensus parsial tentang apa yang merupakan realitas sosial objektif, bukan ada permadani bertarung realitas virtual. Ketika faktor-faktor eksternal perubahan, hal ini tidak secara otomatis menghasilkan perubahan sosial. Sebaliknya ketika orang mendefinisikan situasi tentang faktor-faktor tersebut dan dengan demikian bertindak berdasarkan makna direvisi, yaitu mengubah perilaku sosial, maka ada perubahan sosial.

Sedikit Tentang Teori Interpretasi

Berasal dari Weber yang fokus tidak hanya pada perilaku terang-terangan dan acara tetapi juga pada bagaimana ditafsirkan, didefinisikan dan dibentuk oleh makna budaya bahwa orang memberi kepada mereka, pemahaman interpretatif yaitu aksi sosial – verstehen. Semua jenis teori interpretatif fokus pada aktor cara mendefinisikan situasi sosial dan dampak dari definisi pada aksi dan interaksi berikutnya; masyarakat manusia adalah proses yang berkelanjutan daripada badan atau struktur, sebagai manusia berinteraksi agar mereka melakukan negosiasi, struktur dan makna budaya. Realitas adalah suatu konstruksi sosial yang berkelanjutan simbolis disusun oleh interaksi manusia. Untuk fungsionalis dan ahli teori Konflik, titik awal analisis sosiologis perubahan adalah struktur. namun untuk Interpretiv, perubahan itu sendiri (interaksi, proses, negosiasi) adalah titik awal, dan struktur merupakan produk-oleh dan sementara. Perubahan sosial adalah penciptaan konstan, negosiasi dan menciptakan kembali tatanan sosial. Perubahan sosial dapat dipahami dengan melihat perubahan makna dan definisi. Kelompok, masyarakat, organisasi menjadi nyata hanya sejauh bahwa aktor percaya bahwa mereka harus nyata, sehingga kesepakatan negosiasi tentang apa yang nyata muncul; masyarakat yaitu benar-benar merupakan konstruksi sosial, hasil dari proses sejarah interaksi simbolis dan negosiasi. Dalam masyarakat yang kompleks, hanya ada konsensus parsial tentang apa yang merupakan realitas sosial objektif, bukan ada permadani bertarung realitas virtual. Ketika faktor-faktor eksternal perubahan, hal ini tidak secara otomatis menghasilkan perubahan sosial. Sebaliknya ketika orang mendefinisikan situasi tentang faktor-faktor tersebut dan dengan demikian bertindak berdasarkan makna direvisi, yaitu mengubah perilaku sosial, maka ada perubahan sosial.

Seputar Evaluasi Non Tes

Mutu pendidikan dipengaruhi oleh banyak faktor, diantaranya siswa, pengelola sekolah, lingkungan,kualitas pengajaran, kurikulum dan sebagainya (Suhartoyo, 2005). Usaha peningkatan pendidikan bisa ditempuh dengan peningkatan kualitas pembelajaran dan sistem evaluasi yang baik. Keduanya saling berkaitan sistem pembelajaran yang baik akan menghasilkan kualitas pendidikan yang baik, selanjutnya sistem penilaian yang baik akan mendorong guru untuk menentukan strategi mengajar yang baik dan memotivasi siswa untuk belajar yang lebih baik (Mardapi, 2003).

Sehubungan dengan itu, maka di dalam pembelajaran dibutuhkan guru yang tidak hanya mengajar dengan baik, namun mampu melakukan evaluasi dengan baik. Kegiatan evaluasi sebagai bagian dari program pembelajaran perlu lebih dioptimalkan. Evaluasi tidak hanya bertumpu pada penilaian hasil belajar, namun perlu penilaian terhadap input, output dan kualitas proses pembelajaran itu sendiri.

Dalam makalah ini, kami menyajikan beberapa hal tentang teknik evaluasi yang dapat digunakan dalam penilaian terhadap anak didik, baik itu tentang kemampuan belajar, sikap, keterampilan, sifat, bakat, minat dan kepribadian. Adapun teknik yang akan dijelaskan dalam makalah ini adalah teknik nontes. Salah satu teknik yang sangat membantu dalam penilaian terhadap hal-hal yang bersangkutan dengan siswa.

A. Pengertian Tehnik Nontes

Alat penilaian dapat berarti teknik evaluasi. Tehnik evaluasi nontes berarti melaksanakan penilain dengan tidak mengunakan tes. Tehnik penilaian ini umumnya untuk menilai kepribadian anak secara menyeluruh meliputi sikap, tingkah laku, sifat, sikap sosial, ucapan, riwayat hidup dan lain-lain. Yang berhubungan dengan kegiatan belajar dalam pendidikan, baik secara individu maupun secara kelompok.

Alat penilaian yang non-test, yang biasanya menyertai atau inheren dalam pelaksanaan proses belajar mengajar sangat banyak macamnya. Di antaranya bisa disebutkan adalah observasi (baik dengan cara langsung, tak langsung, maupun partisipasi), wawancara (terstruktur atau bebas), angket (tertutup atau terbuka), sosiometri, checklist, concept map, portfolio, student

journal, pertanyaan-pertanyaan, dan sebagainya.

Keberhasilan siswa dalam proses belajar-mengajar tidak dapat diukur dengan alat tes. Sebab masih banyak aspek-aspek kemampuan siswa yang sulit diukur secara kuantitatif dan mencakup objektifitas misalnya aspek efektif psikomotor.

Penggolongan Tehnik Nontes

1) Observasi

Observasi merupakan suatu pengamatan langsung terhadap siswa dengan memperhatikan tingkah lakuya. Secara umum observasi adalah cara menghimpun bahan-bahan keterangan (data) yang dilakukan dengan mengadakan pengamatan dan pencatatan secara sistematis terhadap fenomena-fenomena yang sedang dijadikan sasaran pengamatan.

Observasi dapat dilakukan pada berbagi tempat misalnya kelas pada waktu pelajaran, dihalaman sekolah pada waktu bermain, dilapangan pada waktu murid olah raga, upacara dan lain-lain.

a. Cara dan Tujuan Observasi

Menurut cara dan tujuannya observasi dapat dibedakan menjadi 3 macam:

1) Observasi partisipatif dan nonpartisipatif

Observasi partisipatif adalah observasi dimana orang yang mengobservasi (observer) ikut

ambil bagian alam kegiatan yang dilakukan oleh objek yang diamatinya. Sedangkan observasi nonpartisipatif, observasi tidak mengambil bagian dalam kegiatan yang dilakukan oleh objeknya. Atau evaluator berada “diluar garis” seolah-olah sebagai penonton belaka. Contoh observasi partisipatif : Misalnya guru mengamati setiap anak. Kalau observasi nonpartisipatif, guru hanya sebagai pengamat, dan tidak ikut bermain.

2) Observasi sistematis dan observasi nonsitematis

Observasi sistematis adalah observasi yang sebelum dilakukan, observer sudah mengatur

sruktur yang berisi kategori atau kriteria, masalah yang akan diamati

Sedangkan observasi nonsistematis yaitu apabila dalam pengamatan tidak terdapat stuktur

ketegori yang akan diamati.

Contoh observasi sistematis misalnya guru yang sedang mngamati anak-anak menanam bunga. Disini sebelum guru melaksanakan observasi sudah membuat kategori-kategori yang akan diamati, misalnya tentang: kerajinan, kesiapan, kedisiplinan, ketangkasan, kerjasama dan kebersihan. Kemudian ketegori-kategori itu dicocokkan dengan tingkah laku murid dalam menanam bunga.

Kalau observasi nonsistematis maka guru tidak membuat kategori-kategori diatas, tetapi

langsung mengamati anak yang sedang menanam bunga.

3) Observasi Eksperimental

Observasi eksperimental adalah observasi yang dilakukan secara nonpartisipatif tetapi

sistematis. Tujuannya untuk mengetahui atau melihat perubahan, gejala-gejala sebagai

akibat dari situasi yang sengaja diadakan.
Sebagai alat evaluasi , observasi digunakan untuk:
a) Menilai minat, sikap dan nilai yang terkandung dalam diri siswa.
b) Melihat proses kegiatan yang dilakukan oleh siswa maupun kelompok.

c) Suatu tes essay / obyektif tidak dapat menunjukan seberapa kemampuan siswa dapat menjelaskan pendapatnya secara lisan, dalam bekerja kelompok dan juga kemampuan siswa dalam mengumpulkan data

b. Sifat Observasi

Observasi yang baik dan tepat harus memilki sifat-sifat tertentu yaitu:

1. Hanya dilakukan sesuai dengan tujuan pengajaran

2. Direncanakan secara sistematis

3. Hasilnya dicatat dan diolah sesuai dengan tujuan

4. Dapat diperika validitas, rehabilitas dan ketelitiaanya.

c. Kelebihan dan Kelemahan Observasi

Observasi sebagai alat penilain nontes, mempunyai beberapa kelebihan, antara lain:

1. Observasi dapat memperoleh data sebagai aspek tingkah laku anak.

2. Dalam observasi memungkinkan pencatatan yang serempak dengan terjadinya suatu

gejala atau kejadian yang penting

3. Observasi dapat dilakukan untuk melengkapi dan mencek data yang diperoleh dari

teknik lain, misalnya wawancara atau angket

4. Observer tidak perlu mengunakan bahasa untuk berkomunikasi dengan objek yang diamati, kalaupun menggunakan, maka hanya sebentar dan tidak langsung memegang peran.

Selain keuntungan diatas, observer juga mempunyai beberapa kelemahan, antara lain:

1. Observer tiidak dapat mengungkapkan kehidupan pribadi seseorag yang sangat dirahasiakan. Apabila seseorang yang diamati sengaja merahasiakan kehidupannya maka tidak dapat diketahui dengan observasi. Misalnya mengamati anak yang menyayi, dia kelihatan gembira, lincah . Tetapi belum tentu hatinya gembira, dan bahagia. Mungkin sebaliknya, dia sedih dan duka tetapi dirahasiakan.

2. Apabila si objek yang diobservasikan mengetahui kalau sedang diobservasi maka tidak

mustahil tingkah lakunya dibuat-buat, agar observer merasa senang.

3. Observer banyak tergantung kepada faktor-faktor yang tidak dapat dapat dikontrol

sebelumya.

Langkah-langkah menyusun observasi :

1. Merumuskan tujuan
2. Merumuskan kegiatan
3. Menyusun langkah-langkah
4. Menyusun kisi-kisi
5. Menyusun panduan observasi
6. Menyusun alat penilaian

2) Wawancara (Interview)

Wawancara, suatu cara yang dilakukan secara lisan yang berisikan pertanyaan-pertanyaan yang sesuai dengan tujuan informsi yang hendak digali. wawancara dibagi dalam 2 kategori, yaitu pertama, wawancara bebas yaitu si penjawab (responden) diperkenankan untuk memberikan jawaban secara bebas sesuai dengan yang ia diketahui tanpa diberikan batasan oleh pewawancara. Kedua adalah wawancara terpimpin dimana pewawancara telah menyusun pertanyaan pertanyaan terlebih dahulu yang bertujuan untuk menggiring penjawab pada informasi-informasi yang diperlukan saja.

Wawancara adalah suatu tehnik penilain yang dilakukan dengan jalan percakapan (dialog) baik secara langsung (face to pace relition) secara langsung apabila wawancara itu dilakukan kepada orang lain misalnya kepada orang tuannya atau kepada temanya. Keberhasilan wawancara sebagai alat penilaian sangat dipengaruhi oleh beberapa hal :

a. Hubungan baik pewawancara dengan anak yang diwawancarai. Dalam hal ini

hendaknya pewawancara dapat menyesuikan diri dengan orang yang diwawancarai

b. Keterampilan pewawancara

Keterampilan pewawancara sangat besar pengaruhnya terhadap hasil wawancara yang dilakukan, karena guru perlu melatih diri agar meiliki keterampilan dalam melaksanakan wawancara.

c. Pedoman wawancara

Keberhasilan wawancara juga sangat dipengaruhi oleh pedoman yang dibuat oleh guru sebelum guru melaksanakan wawancara harus membuat pedoman-pedoman secara terperinci, tentang pertanyaan yang akan diajukan.

Langkah-langkah penyusunan wawancara :

1. Perumusan tujuan

2. Perumusan kegiatan atau aspek-aspek yang dinilai

3. Penyusunan kisi-kisi
4. Penyusunan pedoman wawancara
5. Lembaran penilaian

Kelebihan dan kelemahan wawancara

Kelebihan wawancara yaitu :

1. Wawancara dapat memberikan keterangan keadan pribadi hal ini tergantung pada

hubungan baik antara pewawancara dengan objek
2. Wawancara dapat dilaksanakan untuk setiap umur dan mudah dalam pelaksaannya
3. Wawancara dapat dilaksanakan serempak dengan observasi

Data tentang keadaan individu lebih banyak diperoleh dan lebih tepat dibandingkan

dengan observasi dan angket.

4. Wawancara dapat menimbulkan hubungan yang baik antara si pewawancara dengan

objek.

Sedangkan Kelemahan wawancara:

1. Keberhasilan wawancara dapat dipengaruhi oleh kesediaan, kemampuan individu

yang diwawancarai

2. Kelancaran wawancara dapat dipengaruhi oleh keadaan sekitar pelaksaan

wawancara

3. Wawancara menuntut penguasaan bahasa yang baik dan sempurna dari

pewawancara

4. Adanya pengaruh subjektif dari pewawancara dapat mempengaruhi hasil

wawancara

Ada dua jenis wawancara yang dapat pergunakan sebagai alat evaluasi, yaitu:

a.Wawancara terpimpin (Guided Interview) yang juga sering dikenal dengan istilah

wawancara berstruktur (Structured Interview) atau wawancara sistematis (Systematic

Interview).

b.Wawancara tidak terpimpin (Un-Guided Interview) yang sering dikenal dengan istilah

wawancata sederhana (Simple Interview) atau wawancara tidak sistematis (Non-Systematic

Interview), atau wawancara bebas.

Hal-hal yang perlu diperhatikan didalam guru sebagai pewawancara yaitu:

a.Guru yang akan mengadakan wawancara harus mempunyai back ground tentang apa

yang akan ditanyakan
b. Guru harus menjalankan wawancara dengan baik tentang maksud wawancara tersebut
c. Harus menjaga hubungan yang baik

d. Guru harus mempunyai sifat yang dapat dipercaya
e. Pertanyaan hendaknya dilakukan dengan hati-hati, teliti dan kalimatnya jelas
f. Hindarkan hal-hal yang dapat mengganggu jalannya wawancara
g. Guru harus mengunakan bahasa sesuai kemampuan siswa yang menjadi sumber data
h. Hindari kevakuman pembicaraan yang terlalu lama
i. Guru harus mengobrol dalam wawancara

j. Batasi waktu wawancara

k. Hindari penonjolan aku dari guru

3) Angket (Questionaire)

Pada dasarnya angket adalah sebuah daftar pertanyaan yang harus diisi oleh orang yang akan diukur (responden). Pada umumnya tujuan penggunaan angket atau kuesioner dalam proses pembelajaran terutama adalah untuk memperoleh data mengenai latar belakang peserta didik sebagai salah satu bahan dalam menganalisis tingkah laku dan proses belajar mereka.

Angket sebagai alat penilaian nontes dapat dilaksanakan secara langsung maupun secara tidak langsung. Dilaksanakan secara langsung apabila angket itu diberikan kepada anak yang dinilai atau dimintai keterangan sedangkan dilaksanakan secara tidak langsung apabila nagket itu diberikan kepada orang untuk dimintai keterangan tentang keadaan orang lain. Misalnya diberikan kepada orangtuanya, atau diberikan kepada temannya.

Angket adalah daftar pertanyaan yang terbagi dalam beberapa kategori. Dari segi yang memberikan jawaban, angket dibagi menjadi angket langsung angket tidak langsung. Angket langsung adalah angket yang dijawab langsung oleh orang yang diminta jawabannya. Sedangkan angket tidak langsung dijawab oleh secara tidak langsung oleh orang yang dekat dan mengetahui si penjawab seperti contoh, apabila yang hendak dimintai jawaban adalah seseorang yang buta huruf maka dapat dibantu oleh anak, tetangga atau anggota keluarganya. Dan bila ditinjau dari segi cara menjawab maka angket terbagi menjadi angket tertutup dan angket terbuka. Angket tertututp adalah daftar pertanyaan yang memiliki dua atau lebih jawaban dan si penjawab hanya memberikan tanda silang (X) atau cek (√) pada awaban yang ia anggap sesuai. Sedangkan angket terbuka adalah daftar pertanyaan dimana si penjawab diperkenankan memberikan jawaban dan pendapatnya secara terperinci sesuai dengan apa yang ia ketahui.

Ditinjau dari strukturnya, angket dapat dibagi menadi 2 macam, yaitu angket berstuktur dan angket tidak berstuktur. Angket berstuktur adalah angket yang bersifat tegas, jelas, dengan model pertanyan yang terbatas, singkat dan membutuhkan jawaban tegas dan terbatas pula. Sedangkan angket tidak berstruktur adalah angket yang membutuhkan jawaban uraian panjang, dari anak, dan bebas. Yang biasanya anak dituntut untuk memberi penjelasan- penjelasan, alasan-alasan terbuka.

Angket sebagai alat penilaian terhadap sikap tingkah laku, bakat, kemampuan, minat anak,

mempunyai beberapa kelebihan dan kelemahan. Kelebihan angket antara lain:

1. Dengan angket kita dapat memperoleh data dari sejumlah anak yang banyak yang hanya

membutuhkan waktu yang sigkat.
2. Setiap anak dapat memperoleh sejumlah pertanyaan yang sama
3. Dengan angket anak pengaruh subjektif dari guru dapat dihindarkan

Sedangkan kelemahan angket, antara lain:

1. Pertanyaan yang diberikan melalui angket adalah terbatas, sehingga apabila ada hal-hal

yang kurang jelas maka sulit untuk diterangkan kembali

2. Kadang-kadang pertanyaan yang diberikan tidak dijawab oleh semua anak, atau mungkin dijawab tetapi tidak sesuai dengan kenyataan yang sebenarnya. Karena anak merasa bebas menjawab dan tidak diawasi secara mendetail.

3. Ada kemungkinan angket yang diberikan tidak dapat dikumpulkan semua, sebab banyak anak yang merasa kurang perlu hasil dari angket yang diterima, sehingga tidak memberikan kembali angketnya.

Langkah-langkah menyusun angket :

1. Merumuskan tujuan
2. Merumuskan kegiatan
3. Menyusun langkah-langkah
4. Menyusun kisi-kisi
5. Menyusun panduan angket
6. Menyusun alat penilaian

4). Pemeriksaan Dokumen (Ducumentary Analisis)

Evaluasi mengenai kemajuan, perkembangan atau keberhasilan belajar peserta didik tanpa menguji (tehnik nontes) juga dapat dilengkapi atau diperkaya dengan cara melakukan pemerikasaan terhadap dokumen-dokumen; misalnya dokumen yang memuat infomasi mengenai riwayat hidup (auto biography).

Riwayat hidup adalah gambaran tentang keadaan seseorang selama dalam masa kehidupannya. Dengan mempelajari riwayat hidup, maka subjek evaluasi akan dapat menarik suatu kesimpulan tentang kepribadian kebiasaan atau sikap dari obyek yang dinilai.

Berbagai informasi, baik mengenai peserta didik, orangtua dan lingkungannya itu bukan tidak mungkin pada saat-saat tertentu sangat diperlukan sebagai bahan pelengkap bagi pendidik dalam melakukan evaluasi hasil belajar terhadap peserta didik.

5) Sosiometri

Sosiometri adalah suatu penilaian untuk menentukan pola pertalian dan kedudukan seseorang dalam suatu kelompok. Sehnggga sosiometri merupakan alat yag tepat untuk menilai hubungan sosial dan tingkah laku sosial dari murid-murid dalam suatu kelas, yang meliputi stuktur hubungan individu, susunan antar individu dan arah ubungan sosial. Sehingga dengan demikian seorang guru dapat mengetahui bagaimana keadaan hubungan social dari tiap-tiap anak dalam suatu kelompok atau kelas.

6) Rating scale atau skala bertingkat

Rating scale atau skala bertingkat menggambarkan suatu nilai dalam bentuk angka. Angka- angak diberikan secara bertingkat dari anggak terendah hingga angkat paling tinggi. Angka- angka tersebut kemudian dapat dipergunakan untuk melakukan perbandingan terhadap angka yang lain.

7) Daftar cocok

Daftar cocok adalah sebuah daftar yang berisikan pernyataan beserta dengan kolom pilihan jawaban. Si penjawab diminta untuk memberikan tanda silang (X) atau cek (√) pada jawaban yang ia anggap sesuai.

8) Riwayat hidup

Evaluasi ini dilakukan dengan mengumpulkan data dan informasi mengenai objek evaluasi

sepanjang riwayat hidup objek evaluasi tersebut.

Pengembangan Penilaian yang Inovatif

Metode penilaian saat ini berkembang karena berubahnya hal-hal yang dianggap penting dalam proses belajar, seperti komunikasi dan penggunaan teknologi. Tidak semua hasil proses belajar dapat diukur dengan metode penilaian formal (tradisional) seperti ujian tertulis yang selama ini dipergunakan. Untuk itu diperlukan metode-metode penilaian yang baru, metode penilaian yang lebih inovatif untuk mengukur keberhasilan belajar siswa. Metode inovatif lebih menekankan pada:

• proses dari pada isi
• teknologi
• kerja sama
• komunikasi
• partisipasi aktif siswa

• aplikasi di lapangan.

Oleh karena itu, penilaian yang bersifat inovatif ini, yang juga dikenal dengan penilaian

informal biasanya muncul bersamaan dengan berlangsungnya proses belajar mengajar.

Metode penilaian inovatif menilai di antaranya melalui portfolio, jurnal siswa, concepts maps

(peta konsep), annotated classlist, pertanyaan-pertanyaan, student constructed test,Cognit ive

Process Checklist, kualitas afeksi siswa, dan penilaian siswa terhadap diri sendiri. Jurnal

berisi tentang catatan pelajaran siswa, data, ringkasan, pertanyaan, evaluasi, revisi, kritik dan

hal-hal lain yang berhubungan dengan proses belajar



B. Alat Penilaian Non Test

Ada beberapa alat penilaian yang sering digunakan dalam penilaian. Alat tersebut adalah skala penilaian, daftar cek, catatan anekdot, dan catatan kumulatif. Untuk lebih jelasnya diuraikan di bawah ini.

a. Skala Penilaian

Skala penilaian adalah alat penilaian yang digunakan untuk mengumpulkan data dengan cirri-ciri tertentu dan menentukan tingkat atau jumlah yang telah dicapai yang bersangkutan dengan jumlah atau ciri-ciri tertentu tersebut. Skala penilaian bisa digunakan dalam teknil wawancara, observasi, angket.

Menurut bentuknya skala penilaian dibedakan menjadi:



1. Bentuk kuantitatif

Skala penilaian bentuk kuantitatif adalah skala penilaian yang perbedaan tingkatnya

dibedakan dengan angka.

2. Bentuk desktiftif

Skala penilaian bentuk deskriptif adalah skala penilaian yang perbedaan tingkatnya

dibedakan dengan pernyataan.

b. Daftar cek

Daftar cek adalah alat penilaian non test yang digunakan untuk mengumpulkan data dengan cirri-ciri tertentu, tetapi tidak ada perbedaan tingkatan secara kuantitatif. Daftar cek ini bisa digunakan dalam teknik penilaian wawancara, observasi, angket.

Daftar cek dikerjakan dengan memberikan tanda cek (√) di samping ciri yang diamati dalam rangkaian tingkah laku atau hasil kerja yang sedang dinilai. Apabila cirri tersebut tidak ditemukan, maka dikosongkan.

Contoh:

Berilah tanda cek (√) pada stiap pernyataan di bawah ini, yang merupakan cirri dari

kebiasaan si Ani dalam mempelajari kesenian.

………… 1 Ani tidak menyukai kesenian

………… 2 Ani membersihkan tempat kerjanya setelah pelajaran Kesenian.

………… 3 Selama pelajaran ksenian, Ani belajar dengan baik dan menyelesaikan tugas

yang diberikan.

Catatan anekdot

Catatan anekdot adalah alat penilaian dengan cara mengumpulkan catatan-catatan kejadian khusus yang dibuat sebagai hasil pengamatan guru terhadap tingkah laku siswa yang dinilai. Catatan anekdot berguna untuk menelaah perkembangan individu siswa. Catatan anekdot harus memiliki syarat objektif, deskriptif, hendaknya mengemukakan situasi satu persatu dan selektif.

Catatan Anekdot yaitu catatan khusus mengenai hasil pengamatan tentang tingkah laku anak yang dianggap penting (istimewa). Catatan anekdot ini ada dua macam yaitu anekdot insidental, digunakan untuk mencatat peristiwa yang terjadi sewaktu-waktu, tidak terus- menerus. Sedangkan catatan anekdot periodik digunakan untuk mencatat peristiwa tertentu yang terjadi secara insedental dalam suatu periode tertentu. Catatan anekdot mempunyai kegunaan dalam melaksanakan observasi trerhadap tingkah laku anak. Kegunaanya untuk memperoleh pemahaman yang lebih tepat tentang murid sebagai individu yang kompleks, memperoleh pemahaman tentang sebab-sebab dari suatu problema yang dihadapinya, dan dapat dijadikan dasar utuk pemecahan masalah anak dalam belajar.

d. Catatan kumulatif

Catatan kumulatif adalah alat penilaian yang bersumber dari kumpulan data tentang diri

seorang siswa. Catatan ini sering disebut data pribadi atau kartu pribadi, misalnya :

1. Identitas siswa

2. Keadaan siswa dan status social siswa, prestasi belajar,

3. Data riwayat kesehatan,
4. Hobby
5. Minat

6. Bakat umum dan khusus

7. Hasil bimbingan yang telah dilakukan

Syarat Alat Penilaian

Suatu alat penilaian haruslah memenuhi unsur-unsur validitas. Dalam hal ini alat penilaian harus valid, yang meliputi validitas: isi / kurikuler, ramalan, kesamaan. Di samping itu, alat penilaian juga harus reliabel. Reliabililitas alat penilaian bisa dilakukan dengan jalan : tes ulang, pecahan setara, belah dua. Alat penilaian juga harus praktis, artinya mudah dilaksanakan dan dipahami oleh siswa. Di samping itu suatu alat penilaian juga jangan terlalu sukar, tetapi sebaliknya juga jangan terlalu mudah. Atau dengan kata lain alat penilaian sebaiknya mempunyai taraf kesukaran yang sedang. Syarat lain yang harus dipenuhi adalah alat penilaian harus bisa membedakan antara siswa yang pandai dengan siswa yang tidak pandai. Ini berarti alat penilaian juga harus mempunyai daya pembeda yang tinggi.













BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian Tehnik Nontes

Alat penilaian dapat berarti teknik evaluasi. Tehnik evaluasi nontes berarti melaksanakan penilain dengan tidak mengunakan tes. Tehnik penilaian ini umumnya untuk menilai kepribadian anak secara menyeluruh meliputi sikap, tingkah laku, sifat, sikap sosial, ucapan, riwayat hidup dan lain-lain. Yang berhubungan dengan kegiatan belajar dalam pendidikan, baik secara individu maupun secara kelompok.

Alat penilaian yang non-test, yang biasanya menyertai atau inheren dalam pelaksanaan proses belajar mengajar sangat banyak macamnya. Di antaranya bisa disebutkan adalah observasi (baik dengan cara langsung, tak langsung, maupun partisipasi), wawancara (terstruktur atau bebas), angket (tertutup atau terbuka), sosiometri, checklist, concept map, portfolio, student

journal, pertanyaan-pertanyaan, dan sebagainya.

Keberhasilan siswa dalam proses belajar-mengajar tidak dapat diukur dengan alat tes. Sebab masih banyak aspek-aspek kemampuan siswa yang sulit diukur secara kuantitatif dan mencakup objektifitas misalnya aspek efektif psikomotor.

Penggolongan Tehnik Nontes

1) Observasi

Observasi merupakan suatu pengamatan langsung terhadap siswa dengan memperhatikan tingkah lakuya. Secara umum observasi adalah cara menghimpun bahan-bahan keterangan (data) yang dilakukan dengan mengadakan pengamatan dan pencatatan secara sistematis terhadap fenomena-fenomena yang sedang dijadikan sasaran pengamatan.

Observasi dapat dilakukan pada berbagi tempat misalnya kelas pada waktu pelajaran, dihalaman sekolah pada waktu bermain, dilapangan pada waktu murid olah raga, upacara dan lain-lain.

a. Cara dan Tujuan Observasi

Menurut cara dan tujuannya observasi dapat dibedakan menjadi 3 macam:

1) Observasi partisipatif dan nonpartisipatif

Observasi partisipatif adalah observasi dimana orang yang mengobservasi (observer) ikut

ambil bagian alam kegiatan yang dilakukan oleh objek yang diamatinya. Sedangkan

observasi nonpartisipatif, observasi tidak mengambil bagian dalam kegiatan yang dilakukan oleh objeknya. Atau evaluator berada “diluar garis” seolah-olah sebagai penonton belaka. Contoh observasi partisipatif : Misalnya guru mengamati setiap anak. Kalau observasi nonpartisipatif, guru hanya sebagai pengamat, dan tidak ikut bermain.

2) Observasi sistematis dan observasi nonsitematis

Observasi sistematis adalah observasi yang sebelum dilakukan, observer sudah mengatur

sruktur yang berisi kategori atau kriteria, masalah yang akan diamati

Sedangkan observasi nonsistematis yaitu apabila dalam pengamatan tidak terdapat stuktur

ketegori yang akan diamati.

Contoh observasi sistematis misalnya guru yang sedang mngamati anak-anak menanam bunga. Disini sebelum guru melaksanakan observasi sudah membuat kategori-kategori yang akan diamati, misalnya tentang: kerajinan, kesiapan, kedisiplinan, ketangkasan, kerjasama dan kebersihan. Kemudian ketegori-kategori itu dicocokkan dengan tingkah laku murid dalam menanam bunga.

Kalau observasi nonsistematis maka guru tidak membuat kategori-kategori diatas, tetapi

langsung mengamati anak yang sedang menanam bunga.

3) Observasi Eksperimental

Observasi eksperimental adalah observasi yang dilakukan secara nonpartisipatif tetapi

sistematis. Tujuannya untuk mengetahui atau melihat perubahan, gejala-gejala sebagai

akibat dari situasi yang sengaja diadakan.
Sebagai alat evaluasi , observasi digunakan untuk:
a) Menilai minat, sikap dan nilai yang terkandung dalam diri siswa.
b) Melihat proses kegiatan yang dilakukan oleh siswa maupun kelompok.

c) Suatu tes essay / obyektif tidak dapat menunjukan seberapa kemampuan siswa dapat menjelaskan pendapatnya secara lisan, dalam bekerja kelompok dan juga kemampuan siswa dalam mengumpulkan data

b. Sifat Observasi

Observasi yang baik dan tepat harus memilki sifat-sifat tertentu yaitu:

1. Hanya dilakukan sesuai dengan tujuan pengajaran

2. Direncanakan secara sistematis

3. Hasilnya dicatat dan diolah sesuai dengan tujuan

4. Dapat diperika validitas, rehabilitas dan ketelitiaanya.

c. Kelebihan dan Kelemahan Observasi

Observasi sebagai alat penilain nontes, mempunyai beberapa kelebihan, antara lain:

1. Observasi dapat memperoleh data sebagai aspek tingkah laku anak.

2. Dalam observasi memungkinkan pencatatan yang serempak dengan terjadinya suatu

gejala atau kejadian yang penting

3. Observasi dapat dilakukan untuk melengkapi dan mencek data yang diperoleh dari

teknik lain, misalnya wawancara atau angket

4. Observer tidak perlu mengunakan bahasa untuk berkomunikasi dengan objek yang diamati, kalaupun menggunakan, maka hanya sebentar dan tidak langsung memegang peran.

Selain keuntungan diatas, observer juga mempunyai beberapa kelemahan, antara lain:

1. Observer tiidak dapat mengungkapkan kehidupan pribadi seseorag yang sangat dirahasiakan. Apabila seseorang yang diamati sengaja merahasiakan kehidupannya maka tidak dapat diketahui dengan observasi. Misalnya mengamati anak yang menyayi, dia kelihatan gembira, lincah . Tetapi belum tentu hatinya gembira, dan bahagia. Mungkin sebaliknya, dia sedih dan duka tetapi dirahasiakan.

2. Apabila si objek yang diobservasikan mengetahui kalau sedang diobservasi maka tidak

mustahil tingkah lakunya dibuat-buat, agar observer merasa senang.

3. Observer banyak tergantung kepada faktor-faktor yang tidak dapat dapat dikontrol

sebelumya.

Langkah-langkah menyusun observasi :

1. Merumuskan tujuan
2. Merumuskan kegiatan
3. Menyusun langkah-langkah
4. Menyusun kisi-kisi
5. Menyusun panduan observasi
6. Menyusun alat penilaian

2) Wawancara (Interview)

Wawancara, suatu cara yang dilakukan secara lisan yang berisikan pertanyaan-pertanyaan yang sesuai dengan tujuan informsi yang hendak digali. wawancara dibagi dalam 2 kategori, yaitu pertama, wawancara bebas yaitu si penjawab (responden) diperkenankan untuk memberikan jawaban secara bebas sesuai dengan yang ia diketahui tanpa diberikan batasan oleh pewawancara. Kedua adalah wawancara terpimpin dimana pewawancara telah menyusun pertanyaan pertanyaan terlebih dahulu yang bertujuan untuk menggiring penjawab pada informasi-informasi yang diperlukan saja.

Wawancara adalah suatu tehnik penilain yang dilakukan dengan jalan percakapan (dialog) baik secara langsung (face to pace relition) secara langsung apabila wawancara itu dilakukan kepada orang lain misalnya kepada orang tuannya atau kepada temanya. Keberhasilan wawancara sebagai alat penilaian sangat dipengaruhi oleh beberapa hal :

a. Hubungan baik pewawancara dengan anak yang diwawancarai. Dalam hal ini

hendaknya pewawancara dapat menyesuikan diri dengan orang yang diwawancarai

b. Keterampilan pewawancara

Keterampilan pewawancara sangat besar pengaruhnya terhadap hasil wawancara yang dilakukan, karena guru perlu melatih diri agar meiliki keterampilan dalam melaksanakan wawancara.

c. Pedoman wawancara

Keberhasilan wawancara juga sangat dipengaruhi oleh pedoman yang dibuat oleh guru sebelum guru melaksanakan wawancara harus membuat pedoman-pedoman secara terperinci, tentang pertanyaan yang akan diajukan.

Langkah-langkah penyusunan wawancara :

1. Perumusan tujuan

2. Perumusan kegiatan atau aspek-aspek yang dinilai

3. Penyusunan kisi-kisi
4. Penyusunan pedoman wawancara
5. Lembaran penilaian

Kelebihan dan kelemahan wawancara

Kelebihan wawancara yaitu :

1. Wawancara dapat memberikan keterangan keadan pribadi hal ini tergantung pada

hubungan baik antara pewawancara dengan objek
2. Wawancara dapat dilaksanakan untuk setiap umur dan mudah dalam pelaksaannya
3. Wawancara dapat dilaksanakan serempak dengan observasi

Data tentang keadaan individu lebih banyak diperoleh dan lebih tepat dibandingkan

dengan observasi dan angket.

4. Wawancara dapat menimbulkan hubungan yang baik antara si pewawancara dengan

objek.

Sedangkan Kelemahan wawancara:

1. Keberhasilan wawancara dapat dipengaruhi oleh kesediaan, kemampuan individu

yang diwawancarai

2. Kelancaran wawancara dapat dipengaruhi oleh keadaan sekitar pelaksaan

wawancara

3. Wawancara menuntut penguasaan bahasa yang baik dan sempurna dari

pewawancara

4. Adanya pengaruh subjektif dari pewawancara dapat mempengaruhi hasil

wawancara

Ada dua jenis wawancara yang dapat pergunakan sebagai alat evaluasi, yaitu:

a.Wawancara terpimpin (Guided Interview) yang juga sering dikenal dengan istilah

wawancara berstruktur (Structured Interview) atau wawancara sistematis (Systematic

Interview).

b.Wawancara tidak terpimpin (Un-Guided Interview) yang sering dikenal dengan istilah

wawancata sederhana (Simple Interview) atau wawancara tidak sistematis (Non-Systematic

Interview), atau wawancara bebas.

Hal-hal yang perlu diperhatikan didalam guru sebagai pewawancara yaitu:

a.Guru yang akan mengadakan wawancara harus mempunyai back ground tentang apa

yang akan ditanyakan
b. Guru harus menjalankan wawancara dengan baik tentang maksud wawancara tersebut
c. Harus menjaga hubungan yang baik

d. Guru harus mempunyai sifat yang dapat dipercaya
e. Pertanyaan hendaknya dilakukan dengan hati-hati, teliti dan kalimatnya jelas
f. Hindarkan hal-hal yang dapat mengganggu jalannya wawancara
g. Guru harus mengunakan bahasa sesuai kemampuan siswa yang menjadi sumber data
h. Hindari kevakuman pembicaraan yang terlalu lama
i. Guru harus mengobrol dalam wawancara

j. Batasi waktu wawancara

k. Hindari penonjolan aku dari guru

3) Angket (Questionaire)

Pada dasarnya angket adalah sebuah daftar pertanyaan yang harus diisi oleh orang yang akan diukur (responden). Pada umumnya tujuan penggunaan angket atau kuesioner dalam proses pembelajaran terutama adalah untuk memperoleh data mengenai latar belakang peserta didik sebagai salah satu bahan dalam menganalisis tingkah laku dan proses belajar mereka.

Angket sebagai alat penilaian nontes dapat dilaksanakan secara langsung maupun secara tidak langsung. Dilaksanakan secara langsung apabila angket itu diberikan kepada anak yang dinilai atau dimintai keterangan sedangkan dilaksanakan secara tidak langsung apabila nagket itu diberikan kepada orang untuk dimintai keterangan tentang keadaan orang lain. Misalnya diberikan kepada orangtuanya, atau diberikan kepada temannya.

Angket adalah daftar pertanyaan yang terbagi dalam beberapa kategori. Dari segi yang memberikan jawaban, angket dibagi menjadi angket langsung angket tidak langsung. Angket langsung adalah angket yang dijawab langsung oleh orang yang diminta jawabannya. Sedangkan angket tidak langsung dijawab oleh secara tidak langsung oleh orang yang dekat dan mengetahui si penjawab seperti contoh, apabila yang hendak dimintai jawaban adalah seseorang yang buta huruf maka dapat dibantu oleh anak, tetangga atau anggota keluarganya. Dan bila ditinjau dari segi cara menjawab maka angket terbagi menjadi angket tertutup dan angket terbuka. Angket tertututp adalah daftar pertanyaan yang memiliki dua atau lebih jawaban dan si penjawab hanya memberikan tanda silang (X) atau cek (√) pada awaban yang ia anggap sesuai. Sedangkan angket terbuka adalah daftar pertanyaan dimana si penjawab diperkenankan memberikan jawaban dan pendapatnya secara terperinci sesuai dengan apa yang ia ketahui.

Ditinjau dari strukturnya, angket dapat dibagi menadi 2 macam, yaitu angket berstuktur dan angket tidak berstuktur. Angket berstuktur adalah angket yang bersifat tegas, jelas, dengan model pertanyan yang terbatas, singkat dan membutuhkan jawaban tegas dan terbatas pula. Sedangkan angket tidak berstruktur adalah angket yang membutuhkan jawaban uraian panjang, dari anak, dan bebas. Yang biasanya anak dituntut untuk memberi penjelasan- penjelasan, alasan-alasan terbuka.

Angket sebagai alat penilaian terhadap sikap tingkah laku, bakat, kemampuan, minat anak,

mempunyai beberapa kelebihan dan kelemahan. Kelebihan angket antara lain:

1. Dengan angket kita dapat memperoleh data dari sejumlah anak yang banyak yang hanya

membutuhkan waktu yang sigkat.
2. Setiap anak dapat memperoleh sejumlah pertanyaan yang sama
3. Dengan angket anak pengaruh subjektif dari guru dapat dihindarkan

Sedangkan kelemahan angket, antara lain:

1. Pertanyaan yang diberikan melalui angket adalah terbatas, sehingga apabila ada hal-hal

yang kurang jelas maka sulit untuk diterangkan kembali

2. Kadang-kadang pertanyaan yang diberikan tidak dijawab oleh semua anak, atau mungkin dijawab tetapi tidak sesuai dengan kenyataan yang sebenarnya. Karena anak merasa bebas menjawab dan tidak diawasi secara mendetail.

3. Ada kemungkinan angket yang diberikan tidak dapat dikumpulkan semua, sebab banyak anak yang merasa kurang perlu hasil dari angket yang diterima, sehingga tidak memberikan kembali angketnya.

Langkah-langkah menyusun angket :

1. Merumuskan tujuan
2. Merumuskan kegiatan
3. Menyusun langkah-langkah
4. Menyusun kisi-kisi
5. Menyusun panduan angket
6. Menyusun alat penilaian

4). Pemeriksaan Dokumen (Ducumentary Analisis)

Evaluasi mengenai kemajuan, perkembangan atau keberhasilan belajar peserta didik tanpa menguji (tehnik nontes) juga dapat dilengkapi atau diperkaya dengan cara melakukan pemerikasaan terhadap dokumen-dokumen; misalnya dokumen yang memuat infomasi mengenai riwayat hidup (auto biography).

Riwayat hidup adalah gambaran tentang keadaan seseorang selama dalam masa kehidupannya. Dengan mempelajari riwayat hidup, maka subjek evaluasi akan dapat menarik suatu kesimpulan tentang kepribadian kebiasaan atau sikap dari obyek yang dinilai.

Berbagai informasi, baik mengenai peserta didik, orangtua dan lingkungannya itu bukan tidak mungkin pada saat-saat tertentu sangat diperlukan sebagai bahan pelengkap bagi pendidik dalam melakukan evaluasi hasil belajar terhadap peserta didik.

5) Sosiometri

Sosiometri adalah suatu penilaian untuk menentukan pola pertalian dan kedudukan seseorang dalam suatu kelompok. Sehnggga sosiometri merupakan alat yag tepat untuk menilai hubungan sosial dan tingkah laku sosial dari murid-murid dalam suatu kelas, yang meliputi stuktur hubungan individu, susunan antar individu dan arah ubungan sosial. Sehingga dengan demikian seorang guru dapat mengetahui bagaimana keadaan hubungan social dari tiap-tiap anak dalam suatu kelompok atau kelas.

Langkah yang ditempuh guru dalam sosiometri ada 3 yaitu:

a) Langkah pemilihan teman

Disini guru menyuruh semua murid untuk memilih teman-temannya yang disenangi secara berurutan sebanyak satu atau dua anak. Dalam memilih anak perlu disebutkan alasan mengapa harus memilih teman itu.

Contoh:

Nama : Tono

Kelas : IIIA

Teman yang saya pilih:

1. Candra

Karena aktif belajar dan pandai
2. Sumarsono Karena tegas dalam berbicara
3. Nunung

Karena penurut

b) Langkah pembuatan tabel



Guru membuat tabel dalam materi tes sosiomentri dari data yang telah diperoleh dalam

langkah pemilihan teman.

Misalnya setiap anak memiliki 2 dari 6 orang
Dipilih
Pemilih

Andi
Ani
Ana
Susi
Sandi
Anto

Andi

11

Ani

11

Ana

221

Susi

21

Sandi

22

Anto

2

Pilihan

I

2

2

1

1

-

-

Pilihan

II

-

-

2

1

2

1

Jumlah

2

2

3

2

2

1

c) Langkah Pembuatan Gambar (Sosiogram)

Dari data yang telah kita buat dalam metrik sosiometri, dapat pula kita buat sebuah peta atau sosiogram. Dalam pembuatan sosiogram usahakan anak yang paling banyak dipilih diletakan ditengah-tengah, agar dapat mudah diketahui siapa yang paling banyak dipilih.

Dengan melihat hasil sosiometri kita dapat mengetahui bagaimana kedudukan dan relasi sosial dari masing-masing anak dalam kelompok. Sehingga hasil dari sosiogram ini dapat dibuat pertimbangan untuk menilai sikap sosial anak dan kepribadiannya dalam kelompok. Sosiometri sebagai alat penilaian nontes sangat berguna bagi guru dalam beberapa hal, antara lain:

1. Untuk pembentukan kelompok dalam menentukan kelompok kerja (pembagian tugas)

2. Untuk pengarahan dinamika kelompok

3. Untuk memperbaiki hubungan individu dalam kelompok dan memberi bimbingan kepada

setiap anak.

Dari uraian tersebut diatas dapatlah dipahami, bahwa dalam rangka hasil evaluasi hasil belajar peserta didik, evaluasi tidak harus semata-mata dilakukan denan mengunakan alat berupa tes- tes hasil belajar. Teknik-teknik nontes juga menempati kedudukan yang penting dalam rangka evaluasi hasil belajar, lebih-lebih evaluasi yang berhubungan dengan kondisi kejiwaan peserta didik, seperti persepsinya terhadap guru, minatnya, bakatnya, tingkah laku atau sikapnya, dan sebagainya, yang kesemuannya itu tidak mungkin dievaluasi dengan mengunakan tes sebagai alat pengukurnya.

6) Rating scale atau skala bertingkat

Rating scale atau skala bertingkat menggambarkan suatu nilai dalam bentuk angka. Angka- angak diberikan secara bertingkat dari anggak terendah hingga angkat paling tinggi. Angka- angka tersebut kemudian dapat dipergunakan untuk melakukan perbandingan terhadap angka yang lain.

7) Daftar cocok

Daftar cocok adalah sebuah daftar yang berisikan pernyataan beserta dengan kolom pilihan jawaban. Si penjawab diminta untuk memberikan tanda silang (X) atau cek (√) pada jawaban yang ia anggap sesuai.

8) Riwayat hidup

Evaluasi ini dilakukan dengan mengumpulkan data dan informasi mengenai objek evaluasi

sepanjang riwayat hidup objek evaluasi tersebut.

Pengembangan Penilaian yang Inovatif

Metode penilaian saat ini berkembang karena berubahnya hal-hal yang dianggap penting dalam proses belajar, seperti komunikasi dan penggunaan teknologi. Tidak semua hasil proses belajar dapat diukur dengan metode penilaian formal (tradisional) seperti ujian tertulis yang selama ini dipergunakan. Untuk itu diperlukan metode-metode penilaian yang baru, metode penilaian yang lebih inovatif untuk mengukur keberhasilan belajar siswa. Metode inovatif lebih menekankan pada:

• proses dari pada isi
• teknologi
• kerja sama
• komunikasi
• partisipasi aktif siswa

• aplikasi di lapangan.

Oleh karena itu, penilaian yang bersifat inovatif ini, yang juga dikenal dengan penilaian

informal biasanya muncul bersamaan dengan berlangsungnya proses belajar mengajar.

Metode penilaian inovatif menilai di antaranya melalui portfolio, jurnal siswa, concepts maps

(peta konsep), annotated classlist, pertanyaan-pertanyaan, student constructed test,Cognit ive

Process Checklist, kualitas afeksi siswa, dan penilaian siswa terhadap diri sendiri. Jurnal

berisi tentang catatan pelajaran siswa, data, ringkasan, pertanyaan, evaluasi, revisi, kritik dan

hal-hal lain yang berhubungan dengan proses belajar.

1.Annotated Classlist (Daftar Informasi Siswa di dalam Kelas)

Annotated Classlist adalah suatu daftar yang memberikan cara sistematis untuk mengamati

siswa di dalam kelas. Komponen yang diamati adalah : tingkah laku, ketrampilan, sikap, dan

perhatian.

2.Student-constructed Test (Test yang Dikonstruksi oleh Siswa)

Student-constructed Test adalah siswa diminta guru untuk membuat daftar pertanyaan

(termasuk jawabannya) pada suatu mata pelajaran yang akan diuji. Guru memilih pertanyaan

dari daftar pertanyaan tersebut dan dikeluarkan dalam test.

3.Cognitive Process Checklist (Daftar Proses Ketrampilan Kognitif)

Cognitive Process Checklist melakukan penilaian dengan matriks yang terdiri dari nama-

nama siswa dan kata-kata yang berhubungan dengan keterampilan kognitif seperti : mengklasifikasikan, membuat hipotesis, membuat kesimpulan, menguraikan, mensintesis, mengevaluasi, merencanakan, menyelesaikan masalah.

4. Concept Maps

Concept maps (peta konsep) adalah proses identifikasi konsep-konsep yang terdapat pada

suatu ilmu dan pengorganisasian konsep-konsep tersebut ke dalam bentuk dua dimensi yang disusun secara berurutan dari yang umum ke yang lebih spesifik. Hubungan antara konsep- konsep tersebut dinyatakan dengankata atauprasa. Kerja concept maps biasanya muncul di dalambrainstorming terhadap materi yang sedang diajarkan. Para siswa dapat mengurutkan atau mengatur konsep-konsep secara hirarkis dalam papan tulis atau buku / lembar kerja. Kemudian konsep-konsep itu dihubungkan dengan satu atau lebih konsep yang lain dengan

kataatau prasa yang menjelaskan hubungan antara konsep tersebut.

Concept maps dapat digunakan untuk :

• revisi topik atau materi
• memotivasi siswa
• menguatkan ide tentang suatu topik atau materi
• membangun diskusi tentang suatu topik
• membuat urutan ide dalam suatu topik atau materi
• klarifikasi konsep-konsep
Langkah-langkah untuk membuat concept maps dapat dijelaskan sebagai berikut.

Pertama-tama guru memilih materi yang relevan. Map (peta) direncanakan memang relevan untuk menjelaskan konsep dari materi yang akan diajarkan. Langkah yang kedua para siswa melakukan brainstorming terhadap materi, dan membuat daftar dari konsep-konsep yang ada pada materi tersebut. Kemudian urutkan konsep-konsep yang ada ke dalam yang sifatnya umum (sangat penting) ke konsep-konsep yang sifatnya khusus (kurang penting). Berikutnya, letakkan konsep yang sangat umum (sangat penting) pada bagian paling atas, berturut-turut kemudian untuk konsep yang lebih spesifik (kurang penting) di bawahnya. Akhirnya, hubungkan antara konsep yang ada dengan kata atau prasa yang mengidentifikasikan hubungan antara konsep tersebut. Bila mungkin, bisa juga dicari hubungan antara konsep yang sifatnya cross.

5.Portfolio

Portfolio adalah kumpulan hasil pekerjaan siswa dalam suatu topik tertentu. Isi portofolio dapat berupa data, analisis data, gambar, diagram, contoh-contoh, problem solving, kuis dan lain lain. Dalam pengerjaan portfolio memungkinkan siswa untuk menunjukkan kemampuannya. Contoh portfolio yang paling sederhana adalah map dengan kumpulan- kumpulan bukti yang dapat berupa :

a.artefact, yaitu dokumen yang dihasilkan selama proses belajar seperti laporan

praktikum, pekerjaan rumah, proyek penelitian

b.reproduksi, yaitu foto, film, artikel, buku, copy

c.attestation, dokumen siswa yang disiapkan oleh orang lain seperti orang tua, teman,

guru

d.produksi, yaitu dokumen yang khusus dibuat untuk pengerjaan portofolio.

Struktur portfolio ini meliputi :

1. Tema/Judul

2. Tujuan
3. Daftar isi
4. Bukti-bukti dan keterangannya
5. Kesimpulan
6. Refleksi

Dengan struktur seperti itu, bisa dikatakan bahwa portfolio adalah semacam paper atau lembar kerja, bisa juga semacam kliping yang berisi tentang pembuktian terhadap topik yang ditugaskan oleh guru. Hanya saja dalam proses pengerjaannya siswa selalu dapat berkonsultasi dengan guru tentang bukti-bukti yang mendukung dari topik yang dipilih. Bukti-bukti itu bisa berupa artefact, reproduksi, attestation, dan produksi. Dengan demikian dari waktu ke waktu guru bisa menilai kemajuan dan kemampuan siswa dalam mencari bukti pendukung terhadap suatu topik yang ditugaskan. Yang terpenting dari kerja portfolio adalah kemampuan siswa memberikan atau menjelaskan bukti-bukti yang diperoleh (struktur ke 4 dari portfolio). Dari penjelasan siswa ini guru akan mengetahui betul kemampuan siswa di dalam menjawab suatu masalah dengan bukti pendukungya. Di samping itu, refleksi dari siswa (struktur ke 6 dari portfolio) juga sangat membantu guru untuk mengetahui akan kemampuan mengekspresikan tema yang ada di dalam aplikasi atau pengembangan keilmuan berikutnya. Penjelasan dan bukti-bukti yang disusun siswa bisa juga disajikan dalam bentuk concept maps.

Portfolio dievaluasi dengan cara :

Pertemuan teratur siswa dan guru untuk menilai kemajuan pengerjaan portfolio Menentukan standar atau kriteria tertentu, dan menilai apakah bukti yang dikumpulkan sesuai dengan kriteria pengorganisasian bukti Substansi materi portfolio secara keseluruhan.

6. Pertanyaan-Pertanyaan

Selama berlangsungnya proses belajar mengajar, guru dapat memberikan pertanyaan- pertanyaan kepada para siswanya. Pertanyaan lisan dan tertulis dapat memberikan informasi yang kaya sebagai bahan penilaian. Menurut Sullivan (1987) pertanyaan yang “baik” bersifat :

♦ Mendalam (lebih dalam dari mengingat dan reproduksi)
♦ Mendidik
♦ Terbuka atau dapat menerima beberapa jawaban

Melalui pertanyaan yang baik akan terbentuk dialog antara guru dan siswa sehingga guru dapat mengetahui apa yang sudah diketahui dan yang belum diketahui siswa. Senada dengan Sullivan, Paul Swan (1995) juga telah menyarankan bahwa untuk merangsang berpikir siswa hendaknya para guru di dalam proses belajar mengajarnya meninggalkan pertanyaan- pertanyaan yang bersifat tertutup. Untuk itu hendaknya para guru harus lebih banyak mengajukan pertanyaan yang bersifat terbuka, bahkan bila mungkin pertanyaan itu mengarah ke investigasi. Hampir senada dengan Paul Swan, Piet Speyers (1991) juga mengatakan bahwa pertanyaan yang baik adalah yang mengarah pada kegiatan problem solving dalam setiap pembelajarannya. Beberapa contoh pertanyaan yang bersifat terbuka dan mengarah ke investigasi (dalam matematika) bisa disebutkan misalnya :

1.sebuah persegi panjang mempunyai luas 48 meter persegi, berapa kemungkinan

keliling persegi panjang tersebut ?

2.sebuah persegi panjang mempunyai keliling 40 meter, berapa kemungkinan luas

persegi panjang tersebut ?

3.empat buah bilangan mempunyai rata-rata 24,5; berapa saja kemungkinannya bilangan-

bilangan tersebut ?

4. gambarkan sebuah segitiga yang mempunyai luas 12 cm2 ?

Sementara itu, berkaitan dengan materi pembelajarannya, David Clarke (1997) menyarankan tigal jenis pertanyaan yang bisa dikembangkan seorang guru. Pertama, pertanyaan hendaknya merangsang dayaabstraksi siswa. Kedua, pertanyaan harus memperhatikan

konstektualitas materi yang sedang dipelajari, dan akhirnya pertanyaan hendaknya

memperhatikan segike terhubungan antar konsep yang telah dan sedang dipelajari dengan problem keseharian. Dengan mengajukan pertanyaan semacam itu, Clarke mengatakan bahwa guru telah menjadikan materi pembelajarannya menjadi semakin sempurna. Misalnya dalam proses perpelajaranan guru bisa meminta siswa mendiskusikan dan mencari solusinya dari informasi Bank Dunia sebagai berikut :

“Penduduk kota Besar B bertambah dengan 1 juta orang setiap minggunya, dan akan

menjadi lebih dari separo penduduk dunia dalam jangka waktu sepuluh tahun”.
Kemudian guru bisa meminta para siswa dengan pertanyaan misalnya :
Gambarkan suatu grafik yang menggambarkan informasi dari Bank Dunia tersebut ?

Dari informasi tersebut, representasikan dalam suatu tabel, dan bila mungkin buatlah suatu persamaan yang menggambarkan informasi tersebut. Diskusikan cara mana yang lebih tepat untuk merepresentasikan informasi Bank Dunia tersebut ?.

Metode penilaian inovatif dapat diterapkan pada sistem belajar mengajar kita.

Kelebihan metode tersebut adalah :

1.lebih memberikan bukti kinerja siswa sebagai bahan penilaian

2. lebih adil dalam menilai

3. membangun cara bepikir kritis

4.meningkatkan kemampuan siswa baik dari aspek kognitif, afektif dan psikomotor

5.siswa lebih terlibat dalam pengerjaan tugas-tugasnya.

Kekuranganya :

1.lebih banyak waktu yang dibutuhkan siswa untuk memberikan bukti sebagai bahan

penilaian

2.lebih banyak waktu yang dibutuhkan guru untuk mendapatkan bukti bahan penilaian

yang didapatkan dari keterlibatan dalam proses pengerjaan tugas yang dikerjakan

siswa dan dari hasil akhir pekerjaan siswa.

7. Penilaian kualitas afeksi siswa

Penilaian kualitas afeksi siswa dilakukan dengan matriks yang terdiri dari nama-nama siswa dan kata-kata yang berhubungan dengan afeksi siswa seperti : kemauan, kesabaran, keingintahuan, kontrol diri, pertimbangan, kebebasan, harga diri, toleransi, kesedian menerima pendapat, kemampuan untuk berpartisipasi dalam kelompok.

Pengukuran Domain Afektif

Mengacu klasifikasi domain tujuan pendidikan menjadi domain kognitif, afektif, dan psikomotor, maka untuk mencapai tujuan ketiga domain tersebut diperlukan instrumen yang valid untuk mengukur pencapaian ketiga domain tersebut. Pengukuran domain afektif tidak semudah mengukur domain kognitif. Pengukuran domain afektif tidak dapat dilakukan setiap saat (dalam arti pengukuran formal) karena perubahan tingkah laku peserta didik dapat berubah sewaktu-waktu. Pembentukan sikap seseorang memerlukan waktu yang relatif lama.

Dalam skala nasional (dengan mengacu kepada tujuan pendidikan nasional) domain

atau ranah afektif memiliki cakupan lebih banyak dibandingkan dengan domain atau ranah

kognitif dan psikomotor. Penjabaran tujuan pendidikan nasional ke dalam tujuan jenjang dan satuan pendidikan, kelompok mata pelajaran hingga tujuan mata pelajaran, tidak terlepas dengan tujuan pendidikan nasional, hanya proporsi dari masing-masing domain tersebut tidak sama untuk masing-masing mata pelajaran. Kelompok mata pelajaran pendidikan agama dan akhlak mulia memiliki porsi lebih banyak domain afektifnya dibanding kelompok mata pelajaran yang lainnya.

Domain afektif dijabarkan menjadi 5 level, yaitu penerimaan, partisipasi, penentuan sikap, organisasi, dan pembentukan pola hidup. Untuk memudahkan dalam memilah kata kerja yang cocok untuk masing-masing level tersebut. Menurut Suharsimi, terdapat beberapa skala sikap yang dapat dipergunakan untuk mengukur domain afektif, di antaranya sebagai berikut.

a.Skala Likert; skala ini disusun dalam bentuk suatu pernyataan dan diikuti oleh lima

respon yang menunjukkan tingkatan. Misalnya: SS (sangat setuju), S (setuju), TB (tidak

berpendapat/abstain), TS (tidak setuju), STS (sangat tidak setuju).

b.Skala Pilihan Ganda; skala ini dikembangkan oleh Inkels, seorang ahli penilaian di

Stanford University. Skala ini bentuknya seperti soal bentuk pilihan ganda, yaitu terdiri

dari sejumlah pertanyaan yang diikuti oleh sejumlah alternatif jawaban.

c.Skala Thurstone; skala ini mirip dengan skala Likert karena merupakan suatu instrumen

yang pilihan jawabannya menunjukkan tingkatan. Perbedaan skala Thurstone dengan skala Likert, pada skala Thurstone rentang skala yang disediakan lebih dari lima pilihan, dan disarankan sekitar sepuluh pilihan jawaban (misalnya dengan rentang angka 1 s/d 11 atau a s/d k). Jawaban di tengah adalah netral, semakin ke kiri semakin tidak setuju, sebaliknya semakin ke kanan semakin setuju.

d.Skala Guttman; skala ini sama dengan yang disusun oleh Bogardus, yaitu berupa tiga

atau empat buah pertanyaan yang masing-masing harus dijawab “ya” atau “tidak”. Pernyataan-pernyataan tersebut menunjukkan tingkatan yang berurutan sehingga bila responden setuju pernyataan nomor 2, diasumsikan setuju nomor 1, selanjutnya jika responden setuju dengan pernyataan nomor 3, berarti setuju penyataan nomor 1 dan 2. Contoh:

1). Saya mengizinkan anak saya bermain ke tetangga.

2). Saya mengizinkan anak saya pergi ke mana saja ia mau.

3). Saya mengizinkan anak saya pergi kapan saja dan ke mana saja.

4). Anak saya bebas pergi ke mana saja tanpa minta izin terlebih dahulu.

e. Semantic Differensial; instrumen ini disusun oleh Osgood dan kawan-kawan

dipergunakan untuk mengukur konsep-konsep untuk tiga dimensi. Dimensi-dimensi

yang ada diukur dalam kategori; baik-tidak baik, kuat-lemah, dan cepat-lambat atau

aktif-pasif, atau dapat juga berguna-tidak berguna.

Dengan mengacu pada pembagian skala data menjadi empat, yaitu skala data nominal, ordinal, interval, dan rasio, Augusty Ferdinan mengemukan teknik pengukuran untuk masing-masing skala data tersebut.

1. Pengukuran Data Nominal

Untuk mengukur data nominal dapat menggunakan pertanyaan dengan sejumlah pilihan tertentu, atau pertanyaan dengan diakhiri titik-titik kosong, responden diminta untuk menulis jawaban yang sesuai dengan keadaannya. Pemberian angka pada kategori jawaban respon sematamata sebagai identitas atau tanda tertentu.

2. Pengukuran Data Ordinal

a. Forced Ranking; dalam teknik ini seseorang (responden) diminta untuk memberikan

ranking pada sejumlah pilihan tertentu yang disediakan. Contoh: Mohon saudara

memberikan ranking preferensi terhadap 5 perguruan tinggi agama Islam berikut. Berikan

angka 1 untuk yang paling diminati, 2 untuk yang paling diminati berikutnya, hingga angka
5 untuk yang paling tidak diminati:
Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta……………
Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta…………….
Universitas Islam Negeri Malang……………………………………….
Institut Agama Islam Negeri Walisongo Semarang………………
Institut Agama Islam Sunan Ampel Surabaya ……………………..

b. Semantic Scale; teknik ini dipergunakan untuk menghasilkan respon terhadap sebuah

stimuli, yang disajikan dalam kategori semantik dan menyatakan sebuah tingkatan sifat

atau keterangan tertentu.

c. Summated (Likert) Scale; skala Likert adalah sebuah ekstensi dari skala semantik,

perbedaan utamanya adalahpertama, skala ini menggunakan lebih dari satu item pertanyaan, di mana beberapa pertanyaan digunakan untuk menjelaskan sebuah konstruksi, lalu jawabannya dijumlahkan oleh karenanya disebut summated scala. Kedua, skala ini dikalibrasi dengan cara jawaban yang netral diberi kode “0”.

3. Pengukuran Data Interval

a. Bipolar Adjective; skala ini merupakan penyempurnaan dari semantic scale,dengan

harapan agar respons yang dihasilkan dapat merupakan intervally scaled data. Caranya

adalah dengan memberikan hanya dua kategori ekstrim. b. Agree-Disagree Scale; skala ini merupakan salah satu bentuk lain dari bipolar adjective,

dengan mengembangkan pertanyaan yang menghasilkan jawaban setuju–tidak setuju

dalam berbagai rentang nilai.

c. Continous Scale; skala ini merupakan salah satu teknik pengukur data untuk

menghasilkan data interval, di mana responden diminta untuk memberikan jawaban pada

garis yang ditentukan,

dan setelah itu peneliti pengukur posisi yang dipilih oleh responden untuk menghasil skor

tertentu.

d. Equal With Interval; teknik ini dipergunakan dengan menanyakan responden termasuk

ke dalam kategori mana pandangan mereka dapat diletakkan. Bila rentang yang digunakan

tidakequal, maka data yang dihasilkan cenderung merupakan data ordinal.

b. Constant Sum Scale (Skala Berjumlah Konstan); skala ini dapat dipergunakan untuk

mengetahui preferensi konsumen atas beberapa jenis sesuai dengan konstruk tertentu.

c. Reference Alternative (Alternatif Rujukan), yaitu dengan menentukan sebuah acuan

rujukan, dan penilaian diberikan dengan membandingkan pada acuan yang dirujuk

tersebut. Teknik ini disebut juga dengan magnitude scaling.
Bila buku agama dinilai 100, berapa nilai yang saudara berikan pada alternatif berikut:
1. buku cerita =………………..
2. buku ilmiah =………………..
3. majalah =………………..
4. koran =………………..

B. Alat Penilaian Non Test

Ada beberapa alat penilaian yang sering digunakan dalam penilaian. Alat tersebut adalah skala penilaian, daftar cek, catatan anekdot, dan catatan kumulatif. Untuk lebih jelasnya diuraikan di bawah ini.

a. Skala Penilaian

Skala penilaian adalah alat penilaian yang digunakan untuk mengumpulkan data dengan cirri-ciri tertentu dan menentukan tingkat atau jumlah yang telah dicapai yang bersangkutan dengan jumlah atau ciri-ciri tertentu tersebut. Skala penilaian bisa digunakan dalam teknil wawancara, observasi, angket.

Menurut bentuknya skala penilaian dibedakan menjadi:



1. Bentuk kuantitatif

Skala penilaian bentuk kuantitatif adalah skala penilaian yang perbedaan tingkatnya

dibedakan dengan angka.

Contoh dalam diskusi kelompok, apabila peserta memiliki sifat di bawah ini secara

sempurna lingkarilah angka 10 dan apabila tidak sama sekali, lingkari angka 1.
Kerjasama 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
Partisipasi 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
Inisiatif 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10

2. Bentuk desktiftif

Skala penilaian bentuk deskriptif adalah skala penilaian yang perbedaan tingkatnya

dibedakan dengan pernyataan.

Contoh berilah tanda cek (√) di depan pernyataan yang merupakan sifat yang dimiliki

peserta diskusi kelompok.
Partisipasi :
……….. Tidak partisipasi aktif dalam kelompok

……….. kadang-kadang partisipasi

……….. berpartisipasi aktif

……….. sangat partisipasi dalam kelompok

3. Bentuk grafis

Skala penilaian dalam bentuk grafis adalah skala penilaian yang tingkatannya dimasukkan ke dalam kotak-kotak, dimana yang menilai member tanda cheek list pada kotak tersebut.

b. Daftar cek

Daftar cek adalah alat penilaian non test yang digunakan untuk mengumpulkan data dengan cirri-ciri tertentu, tetapi tidak ada perbedaan tingkatan secara kuantitatif. Daftar cek ini bisa digunakan dalam teknik penilaian wawancara, observasi, angket.

Daftar cek dikerjakan dengan memberikan tanda cek (√) di samping ciri yang diamati dalam rangkaian tingkah laku atau hasil kerja yang sedang dinilai. Apabila cirri tersebut tidak ditemukan, maka dikosongkan.

Contoh:

Berilah tanda cek (√) pada stiap pernyataan di bawah ini, yang merupakan cirri dari

kebiasaan si Ani dalam mempelajari kesenian.

………… 1 Ani tidak menyukai kesenian

………… 2 Ani membersihkan tempat kerjanya setelah pelajaran Kesenian.

………… 3 Selama pelajaran ksenian, Ani belajar dengan baik dan menyelesaikan tugas

yang diberikan.

c. Catatan anekdot

Catatan anekdot adalah alat penilaian dengan cara mengumpulkan catatan-catatan kejadian khusus yang dibuat sebagai hasil pengamatan guru terhadap tingkah laku siswa yang dinilai. Catatan anekdot berguna untuk menelaah perkembangan individu siswa. Catatan anekdot harus memiliki syarat objektif, deskriptif, hendaknya mengemukakan situasi satu persatu dan selektif.

Catatan Anekdot yaitu catatan khusus mengenai hasil pengamatan tentang tingkah laku anak yang dianggap penting (istimewa). Catatan anekdot ini ada dua macam yaitu anekdot insidental, digunakan untuk mencatat peristiwa yang terjadi sewaktu-waktu, tidak terus- menerus. Sedangkan catatan anekdot periodik digunakan untuk mencatat peristiwa tertentu yang terjadi secara insedental dalam suatu periode tertentu. Catatan anekdot mempunyai kegunaan dalam melaksanakan observasi trerhadap tingkah laku anak. Kegunaanya untuk memperoleh pemahaman yang lebih tepat tentang murid sebagai individu yang kompleks, memperoleh pemahaman tentang sebab-sebab dari suatu problema yang dihadapinya, dan dapat dijadikan dasar utuk pemecahan masalah anak dalam belajar.

d. Catatan kumulatif

Catatan kumulatif adalah alat penilaian yang bersumber dari kumpulan data tentang diri

seorang siswa. Catatan ini sering disebut data pribadi atau kartu pribadi, misalnya :

1. Identitas siswa

2. Keadaan siswa dan status social siswa, prestasi belajar,

3. Data riwayat kesehatan,
4. Hobby
5. Minat

6. Bakat umum dan khusus

7. Hasil bimbingan yang telah dilakukan

Syarat Alat Penilaian

Suatu alat penilaian haruslah memenuhi unsur-unsur validitas. Dalam hal ini alat penilaian harus valid, yang meliputi validitas: isi / kurikuler, ramalan, kesamaan. Di samping itu, alat penilaian juga harus reliabel. Reliabililitas alat penilaian bisa dilakukan dengan jalan : tes ulang, pecahan setara, belah dua. Alat penilaian juga harus praktis, artinya mudah dilaksanakan dan dipahami oleh siswa. Di samping itu suatu alat penilaian juga jangan terlalu sukar, tetapi sebaliknya juga jangan terlalu mudah. Atau dengan kata lain alat penilaian sebaiknya mempunyai taraf kesukaran yang sedang. Syarat lain yang harus dipenuhi adalah alat penilaian harus bisa membedakan antara siswa yang pandai dengan siswa yang tidak pandai. Ini berarti alat penilaian juga harus mempunyai daya pembeda yang tinggi.



KESIMPULAN

Teknik evaluasi nontes berarti melaksanakan penilaian dengan tidak mengunakan tes. Tehnik evaluasi ini umumnya untuk menilai keperibadian anak secara menyeluruh meliputi sikap, tingkah laku, sifat, sikap social, ucapan, riwayat hidup dan lain-lain yang berhubungan dengan kegiatan belajar dalam pendidkan baik individual maupun secara kelompok.

Tekhnik nontes terdiri atas ; Observasi (pengamatan), Wawancara (interview), Angket (Questionave), Pemeriksaan Dokumen (Dukomentary Analisis), dan Sosiometri. Tiap-tiap metode penilaian memiliki kelebihan dan kekurangan, tetapi pada dasarnya dapat diterapkan (disesuaikan) pada semua mata pelajaran pada sistem belajar mengajar kita. Akhirnya, aktivitas penilaian yang baik adalah identik dengan aktivitas pengajaran yang baik.

Mengacu klasifikasi domain tujuan pendidikan menjadi domain kognitif, afektif, dan psikomotor, maka untuk mencapai tujuan ketiga domain tersebut diperlukan instrumen yang valid untuk mengukur pencapaian ketiga domain tersebut. Pengukuran domain afektif tidak semudah mengukur domain kognitif. Pengukuran domain afektif tidak dapat dilakukan setiap saat karena perubahan tingkah laku peserta didik dapat berubah sewaktu-waktu. Pembentukan sikap seseorang memerlukan waktu yang relatif lama.

Untuk mengukur domain afektif dan sebagian psikomotor diperlukan pengembangan instrumen evaluasi nontes (alternative test). Pengembangan instrumen ini relatif lebih sulit dibandingkan dengan pengembangan instrumen evaluasi tes. Untuk itu, diperlukan kajian yang seksama dalam menurunkan serta menjabarkan domain afektif ke dalam aspek-aspek yang spesifik untuk dapat mengembangkan instrumen yang valid dan reliabel.

Ada beberapa alat penilaian yang sering digunakan dalam penilaian. Alat tersebut adalah

skala penilaian, daftar cek, catatan anekdot, dan catatan kumulatif.